Senin, 04 Mei 2015

Makalah "EYD"

BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Ejaan Adalah seperangkat aturan atau kaidah pelambang bunyi bahasa, pemisahan, penggabungan, dan penulisanya dalam suatu bahas. Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja. Mengeja adalah kegiatan melafalakan huruf, suku kata, atau kata, sedangakan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas dari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai  bahasa demi keteraturan dan keseragaman hidup, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan dalam bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Ibarat sedang menyetir kendaraan, ejaan adalah rambu lalu lintas yang harus dipatuhi oleh setiap pengemudi. Jika para pengemudi mematuhi rambu itu, terciptalah lalu lintas yang tertib, teratur, dan tidak semrawut. Seperti itulah kira – kira bentuk hubungan antara pemakai dengan ejaan.
Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). EYD yang resmi mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972 ini memang upaya penyempurnaan ejaan yang sudah dipakai selam dua puluh lima tahun sebelumnya yang dikenal dengan nama Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada tahun itu diresmikan pada tahun 1947). Sebelum Ejaan Soewandi telah ada ejaan yang merupakan ejaan pertama Bahasa Indonesia yaitu Ejaan Van Ophuysen (nama seorang guru besar Belanda yang juga pemerhati bahasa) yang diberlakukan pada tahun 1901 oleh pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia pada masa itu. Ejaan Van Ophuysen tidak berlaku lagi pada tahun 1947.

B.  RUMUSAN MASALAH
1.    Apa hakikat dan pengertian Ejaan Yang Disempurnakan ?
2.    Bagaimana penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan ?

C.  TUJUAN
1.    Untuk mendeskripsikan hakikat dan pengertian Ejaan Yang Disempurnakan
2.    Untuk menjelaskan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan


BAB II
PEMBAHASAN
A.                Penggunaan EYD
Ejaan Adalah seperangkat aturan atau kaidah pelambang bunyi bahasa, pemisahan, penggabungan, dan penulisanya dalam suatu bahas.Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja.Mengeja adalah kegiatan melafalakan huruf, suku kata, atau kata, sedangakan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas dari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai  bahasa demi keteraturan dan keseragaman hidup, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan dalam bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Ibarat sedang menyetir kendaraan, ejaan adalah rambu lalu lintas yang harus dipatuhi oleh setiap pengemudi.Jika para pengemudi mematuhi rambu itu, terciptalah lalu lintas yang tertib, teratur, dan tidak semrawut.Seperti itulah kira – kira bentuk hubungan antara pemakai dengan ejaan.
Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). EYD yang resmi mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972 ini memang upaya penyempurnaan ejaan yang sudah dipakai selam dua puluh lima tahun sebelumnya yang dikenal dengan nama Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada tahun itu diresmikan pada tahun 1947). Sebelum Ejaan Soewandi telah ada ejaan yang merupakan ejaan pertama Bahasa Indonesia yaitu Ejaan Van Ophuysen (nama seorang guru besar Belanda yang juga pemerhati bahasa) yang diberlakukan pada tahun 1901 oleh pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia pada masa itu. Ejaan Van Ophuysen tidak berlaku lagi pada tahun 1947.
1.      Etika dan Kode Etik Penulisan
Etika dan kode etik yang lazim ditumbuhbudayakan dalam penulisan karya ilmiah harus diikuti.Hak cipta dan paten dari segi hukum harus diikuti dan difahami dengan baik.Penulis harus memahami etika penulisan karya ilmiah secara baik.Kode etik adalah norma-norma yang telah diterima dan diakui oleh masyarakat dan citivitas akademik perlu diperhatikan dalam penulisan karya ilmiah.Norma ini berkaitan dengan pengutipan, perujukan, perijinan terhadap bahan yang digunakan, dan penyebutan sumber data ataupun informan.
2.      Bahasa dan Tanda Baca
Bahasa tulisan dapat dimengerti dengan baik bila kalimat-kalimat yang telahditulis sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dalam bahasa tersebut. Tandabaca berperan penting dalam bahasa tulisan. Tanda baca yang tidak lengkap dapatmenyebabkan isi tulisan sulit dimengerti. Oleh karena itu dalam bab ini dibahasaturan-aturan penulisan tanda baca, kata-kata serta judul-judul yang menjadimateri dalam tulisan tersebut.
a.      Penulisan Tanda Baca
Penulisan tanda baca, kata, dan huruf mengikuti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, Pedoman Pembentukan Istilah, dan Kamus (Keputusan Mendikbud, Nomor 0543a/U/487, tanggal 9 September 1987). Berikut ini beberapa kaidah penting yang perlu diperhatikan.
- titik (.)
- koma (,)
- titik dua (:)
- tanda seru (!)
- tanda tanya (?)
- tanda persen (%)
semua yang di atas harus diketik rapat dengan huruf yang mendahuluinya.
Contoh:
Tidak Baku
Baku
Sampel dipilih secara rambang .
Data dianalisis dengan teknik korelasi ,Anova , dan regresi ganda.                  
... dengan teori ; kemudian ...
... sebagai berikut :
Hal itu tidak benar !
Benarkah hal itu ?
Jumlahnya sekitar 20 %.
Sampel dipilih secara rambang.
Data dianalisis dengan teknik korelasi, Anova, dan regresi ganda.
... dengan teori; kemudian ...
... sebagai berikut:
Hal itu tidak benar!
Benarkah hal itu?
Jumlahnya sekitar 20%.

Tanda kutip ("...") dan tanda kurung () diketik rapat dengan huruf dari kata atau frasa yang diapit.
Contoh:
Tidak Baku
Baku
Kelima kelompok" sepadan ".
Tes tersebut dianggap baku (standardized).
Kelima kelompok "sepadan".
Tes tersebut dianggap baku (standardized).

Tanda hubung (-), tanda pisah (—), dan garis miring (/) diketik rapat dengan huruf yang mendahului dan mengikutinya.
Contoh:
Tidak Baku
Baku
Tidak berbelit - belit.
Ini terjadi selama tahun 1942 -1945.
Semua teknik analisis yang dipakai di sini — kuantitatif dan kualitatif — perlu ditinjau.
Dia tidak / belum mengaku.
Tidak berbelit-belit.
Ini terjadi selama tahun 1942-1945.
Semua teknik analisis yang dipakai di sini—kuantitatif dan kualitatif—perlu ditinjau.
Dia tidak/belum mengaku.

Tanda sama dengan (=), lebih besar (>), lebih kecil (<), tambah (+), kurang (-), kali (x), dan bagi (:) diketik dengan spasi satu ketukan sebelum dan sesudahnya.
Contoh:
Tidak Baku
Baku
p=0,05
p>0,01
p<0,01
a+b=c
a:b=d
p = 0,05
p > 0,01
p < 0,01
a + b = c
a : b = d


Akan tetapi, tanda bagi () yang dipakai untuk memisahkan tahun penerbitan dengan nomor halaman pada rujukan diketik rapat dengan angka yang mendahului dan mengikutinya.
Contoh:
Tidak Baku
Baku
Sadtono (1980 : 10) menyatakan
Sadtono (1980:10) menyatakan
 Pemenggalan kata pada akhir baris (-) disesuaikan dengan suku katanya.
Contoh:
Tidak Baku
Baku
Masalah ini perlu ditegaskan.
Tidak dilakukan dengan mem-babi-buta.
Masalah ini perlu ditegas- kan.
Tidak dilakukan dengan mem-babi-buta.
b.      Penggunaan Huruf
   Ejaan bahasa Indonesia menggunakan aksara Latin, yang terdiri dari 26 huruf. Setiap huruf digunakan untuk melambangkan satu bunyi atau satu fonem, kecuali gabungan huruf kh, ng, ny, dan sy yang juga digunakan untuk melambangkan satu bunyi, serta huruf e yang digunakan untuk melambangkan dua buah bunyi. Sementara huruf qdan x hanya digunakan pada kata serapan tertentu.
Secara ortografi [1], kita kenal adanya empat macam huruf, yaitu (1) huruf kapital, (2) huruf biasa atau huruf kecil, (3) huruf miring, dan (4) huruf tebal (bold, fat).
c.       Penggunaan Huruf Kapital
Huruf kapital atau sering juga disebut huruf besar digunakan pada  :
1)      huruf pertama kata awal kalimat. Misalnya,
Ø  Pada satu proses                                
Ø   Apa maksudnya ?
Ø  Kita tidak tahu maksudnya
2)      huruf pertama pada kata pertama pada petikan langsung atau kalimat langsung,
Ø  Hakim bertanya,  “Nama Saudara siapa ?”
Ø  Poltak berseru, "Diam kau!"
Ø  Petugas polantas berkata, " Tolong tunjukkan SIM dan STNK!"
3)      huruf pertama kata atau ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, nama kitab suci, nama agama, termasuk kata gantinya.  Misalnya  :
Ø  Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih; Quran, Weda, Islam, Kristen, Katolik.
Ø  Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau ridhoi.
Ø  Mohon ampunlah kepada-Nya.
4)      huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama diri. Misalnya  :
Ø  Mahaputera Yamin; Sultan Hasanudin; Haji Agus Salim; Imam Syafi'i; Nabi Muhammad.
Namun, kalau tidak diikuti nama diri, huruf kapital itu tidak digunakan. Misalnya,
Ø  Tahun ini ia pergi naik haji.
Ø  Beliau baru dinobatkan jadi sultan.
Ø  Banyak orang mengaku nabi pada awal abad ke-21 ini.
5)      huruf pertama unsur nama jabatan dan nama pangkat yang diikuti nama diri, atau yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya  :
Ø   Wakil Presiden Budiono.                    
Ø  Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian.
Ø  Gubernur DKI Jaya.                          
Ø  Profesor Doktor Bejo Suyanto.
Namun, kalau tidak diikuti nama diri, nama jabatan, nama orang, nama instansi atau nama tempat, huruf kapital itu tidak dipakai. Misalnya  :
Ø  Siapa gubernur yang baru dilantik itu.
Ø  Beberapa orang jenderal hadir di situ.
Ø  Kemarin Letnan Jenderal Ahmad dilantik menjadi jenderal.
6)      huruf pertama unsur-unsur nama orang. Contohnya  :
Ø  Halim Perdana Kusuma.
Ø  Wage Rudolf Supratman.                            
Ø  Helvy Tiara Rosa.
Namun, kalau nama orang itu digunakan sebagai nama benda, nama jenis, dan nama ukuran, maka huruf kapital tidak digunakan. Contohnya  :
Ø  mesin diesel
Ø  10 volt
Ø  5 ampere
7)      huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan nama bahasa. Contohnya  :
Ø  bangsa Indonesia
Ø  suku Batak                        
Ø  bahasa Inggris
        Namun, kalau nama bangsa, nama suku bangsa dan nama bahasa itu digunakan sebagai bentuk dasar sebuah kata turunan, huruf kapital itu tidak digunakan. Contohnya  :
Ø  mengindonesiakan kata asing              
Ø  agak kejawa-jawaan                     
Ø   wanita yang kebelanda-belandaan
8)      huruf pertama nama tahun, nama bulan, nama hari, nama hari raya, dan nama peristiwa sejarah. Contohnya  :
Ø  tahun Hijriah
Ø  bulan Agustus   
Ø   hari Jumat         
Ø  hari Natal
Ø  Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 
9)      huruf pertama nama geografi.  Contohnya  :
Ø  Asia Tenggara           
Ø  Bukit Barisan
Ø  Gorontalo                  
Ø  Danau Limboto     
Ø  Gunung Salak            
Ø  Selat Sunda
Ø  Teluk Jakarta             
Ø  Kali Brantas
        Namun, pada istilah geografi yang bukan merupakan nama diri, huruf kapital tidak digunakan. Contohnya  :
Ø  berlayar ke teluk
Ø  mandi di kali
Ø   menyeberangi selat   
Ø  menuju arah utara     

         Pada nama geografi yang dipakai sebagai nama jenis, huruf kapital juga tidak digunakan. Contohnya  :
Ø  garam inggris       
Ø  gulajawa
Ø  salak bali              
Ø  dodol garut
Ø  sate madura         
Ø  pisang ambon
10)  huruf pertama unsur-unsur nama negara, nama lembaga pemerintahan, dan nama dokumen resmi; kecuali kata seperti, dan, atau, ataupun kepada. Contoh :   
Ø  Republik Indonesia     
Ø  Majelis Permusyawaratan Rakyat
Ø  Departeman Pendidikan Nasional
Ø  Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57, Tahun 1972         
                                 Namun, simak contoh berikut !    
Ø  menurut undang-undang yang berlaku  
Ø  menjadi sebuah negara republik      
Ø  beberapa badan hukum              
11)  huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga pemerintahan, dan dokumen resmi. Contoh :
Ø  Undang-Undang Dasar 1945                        
Ø  Perserikatan Bangsa-Bangsa  
Ø  Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial
12)   huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan; kecuali kata di, ke, dan, yang untuk; yang tidak terletak pada posisi awal. Contohnya :  
Ø  Bukunya berjudul Membongkar Gurita Cikeas  
Ø  Dia agen surat kabar Media Indonesia         
Ø  Bacalah majalah Tempo minggu lalu
13)  huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Contohnya :
Ø  Dr.  →  doktor          
Ø  M.A.         →   master of art
Ø  Prof.          →  profesor      
Ø  Tn.  →   tuan            
Ø  Sdr.           →  saudara                                                
14)  huruf pertama kata perkerabatan seperti bapak, ibu, kakak, saudara, dan adik yang dipakai sebagai kata ganti, kata sapaan, atau kata sebutan (pengacuan).  Contoh :
Ø   "Kapan Bapak berangkat ?" tanya Hasan   
Ø   Adik bertanya, "Itu apa, Bu ?"                  
Ø   "Silakan duduk, Kak " kata Adi
Ø  Besok Paman akan datang
Namun, bila kata perkerabatan dipakai sebagai istilah perkerabatan, huruf kapital tidak digunakan.
Ø  Kita harus menghormati bapak dan ibu kita 
Ø  Semua kakak dan adik saya sudah menikah 
15)   huruf pertama kata ganti Anda.  Contoh :      
Ø  Apakah Anda sudah berkeluarga ?    
Ø  Surat Anda sudah kami terima      
d.      Penggunaan Huruf Kecil
Huruf kecil digunakan pada tempat yang tidak menggunakan huruf kapital.
e.       Penggunaan Huruf Miring
Huruf miring digunakan untuk  :   
1.      menuliskan nama buku, nama majalah, dan nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Contoh :
Ø   Bukunya berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang
Ø   Setiap pagi dia membaca koran Kompas
Ø  Majalah Bahasa dan Sastra terbitan Pusat Bahasa
2.      menuliskan istilah ilmiah, dan kata atau ungkapan asing yang ejaannya belum disesuaikan. Contoh :
Ø  Nama ilmiah nyamuk penyebab deman berdarah adalah aedes agypti
Ø  Politik devide et empera pernah merajalela di negara kita
Ø  Bailout pada Bank Century menjadi topik pembicaraan di DPR
3.      menuliskan kata-kata yang dianggap belum baku. Contoh :
Ø  Beliau memang nggak tahu
Ø  Keadaan semakin semrawut
Ø  Di sini kamu jangan berlaku neko-neko

4.      menuliskan kata atau huruf yang dianggap penting dalam sebuah teks. Contoh :
Ø  Buatlah kalimat dengan kata apalagi dan kata lagi pula
Ø  Dalam bab ini tidak dibicarakan penulisan huruf kapital
Ø  Dia bukan menipu, melainkan ditipu
f.       Penggunaan Huruf Tebal (bold, fat)
Penggunaan huruf tebal belum atau tidak diatur dalam pedoman EYD (ejaan yang disempurnakan); tetapi tampaknya huruf tebal digunakan pada kata-kata yang dianggap penting. Dalam tulisan tangan atau ketikan manual kata-kata yang akan dicetak tebal diberi dua garis bawah.     
g.      Penggunaan Tanda Baca
Dalam bahasa tulis, tanda baca ini sangat penting karena dengan adanya tanda baca itu kita akan terbantu untuk dapat memahami suatu tulisan. Dalam sistem ejaan dikenal adanya tanda baca titik (.), koma (,), titik koma (;), titik dua (:), tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda petik ("......"), tanda hubung (-), tanda pisah (—), tanda kurung ([......]), tanda garis miring (/), dan tanda penyingkat ('). Bagaimana menggunakan tanda baca itu, dijelaskan di bawah.
h.      Penggunaan Tanda Titik ( . )
a.       Tanda titik digunakan pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
                                 Misalnya :
Ø  Ayahku mantan anggota DPR.
Ø  KPK menahan Anggodo Widjoyo kemarin.
Ø  Partai koalisi mulai retak.
b.      Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
                                 Misalnya  :
Ø  pukul 3.15.10 (pukul 3 lewat 15 menit 20 detik)
c.       Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
                                 Misalnya : 
Ø  5.35.20 jam (5 jam, 35 menit, 20 detik)    
Ø  0.25.30 jam (25 menit, 30 detik)       
Ø   0.0.30 jam (30 detik)

d.      Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
                      Misalnya :                                         
Ø  Penduduk di desa itu ada 25.325 orang
Ø  Harganya Rp 4.850.000,-
Ø  Gempa di sana menelan 1.274 jiwa tewas
e.       Tanda titik tidak digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
                     Misalnya  :
Ø  Dia lahir tahun 1951 di Surabaya       
Ø  Nomor teleponnya adalah 8657712        
Ø  Nomor pendaftarannya adalah 2657718       
f.       Tanda titik tidak digunakan pada akhir judul berita, judul karangan, judul tabel, dan sebagainya.
                     Misalnya  :
Ø  Tabrakan Beruntun di Jalan Tol
Ø  Habis Gelap Terbitlah Terang 
Ø  Masalah Kawin Siri-di Indonesia

g.      Tanda titik tidak digunakan di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat; dan (2) nama dan alamat penerima surat.
                                 Misalnya  :                           
Ø  Jalan Taman Malaka Utara 5                         
Ø  Jakarta Timur
Ø  25 Februari 2015
i.        Penggunaan Tanda Koma ( , )
Tanda baca koma ( , ) digunakan dengan aturan sebagai berikut :
1)      digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
                      Misalnya  :
Ø  Yang hadir anggota fraksi Golkar, fraksi PDIP, fraksi PKS, dan fraksi Demokrasi
Ø  Yang salah jawaban nomor 8, 9, 12, 13, dan 15
2)      digunakan untuk memisahkan bagian kalimat setara yang satu dari bagian kalimat setara lainnya yang didahului oleh konjungsi seperti tetapi dan melainkan.
                                 Misalnya :
Ø  Saya ingin hadir, tetapi tidak diundang
Ø  Yang menyusahkan rakyat bukan hanya penjahat, melainkan juga pejabat        
3)      digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat bila anak kalimat itu mendahului induk kalimat.
                                 Misalnya :
Ø  Karena sakit, dia tidak jadi datang     
Ø  Kalau diundang, saya tentu datang    
Catatan  :       
Kalau anak kalimat berada di belakang induk kalimat, maka tanda koma itu tidak digunakan.
Misalnya  :                                        
Ø  Dia tidak jadi datang karena sakit      
Ø  Saya tentu datang kalau diundang
4)      digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung antar-kalimat yang terdapat pada awal kalimat sepertijadi, oleh karena itu, akan tetapi, maka dan sebagainya.
                                 Misalnya  :
Ø  Jadi, utangmu semua menjadi 10 juta rupiah
Ø  Oleh karena itu, kita harus selalu waspada
Ø  Akan tetapi, saya masih akan mencoba lagi tahun depan
5)      digunakan di belakang kata seruan seperti oh, nah, aduh, ya, alangkah, dan kasihan di dalam sebuah kalimat.
                                 Misalnya  :
Ø  Oh, begitu ?
Ø  Wah, bukan main besarnya!
Ø  Hati-hati, ya, nanti jatuh
6)       digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
                      Misalnya  :                      
Ø  Kata ibu, "Saya senang sekali."   
Ø   "Saya gembira sekali", kata bapak, "karena terpilih jadi anggota DPR."
7)      digunakan di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, nama keluarga atau marga.
                                 Misalnya  :    
Ø  Dr. Ahmad Dimyati, S.H  
Ø  Ny. Komala Sari, MA.
Ø  Abdul Aziz, M. Hum.
a)      digunakan di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
                                 Misalnya  :  
Ø  12,5 Cm     
Ø  Rp 1.255,25       
8)      digunakan untuk mengapit keterangan tambahan (aposisi) yang sifatnya tidak membatasi.
                                 Misalnya  :          
Ø  Ruhut Sitompul, anggota pansus dari partai Demokrat, sering membuat ulah
Ø  Sukarno, presiden pertama RI, dimakamkan di Blitar
Ø  Banyak anggota DPR, dari fraksi mana pun, disinyalir sering bolos dari sidang
9)      dapat digunakan untuk menghindari salah baca dan salah paham di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
                                 Misalnya  :
Ø  Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang sungguh-sungguh
Ø  Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan banyak terima kasih
Ø  Menurut keterangan bapak, Iskandar adalah anggota DPRD yang baru dilantik
10)  tidak digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringnya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
                                 Misalnya  :                                            
Ø  "Saudara bekerja di mana?" tanya ayah     
Ø  "Ayo kita serang !" teriaknya keras-keras       
j.        Penggunaan Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma dapat digunakan untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya  :
Ø  Malam semakin larut; pekerjaan belum selesai juga; aku jadi bingung
Ø  Ayah membaca koran di ruang tamu; ibu sibuk di dapur; adik mengerjakan PR; saya sendiri asyik menonton televisi
Catatan :    
Jika kita lihat contoh di atas, sebenarnya tanda titik koma itu bisa diganti dengan tanda koma.

k.      Penggunaan Tanda Titik Dua ( : )
Tanda titik dua dapat digunakan :
1.      pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya  :
Ø  Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari
Ø  Hanya ada dua pilihan bagi pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati

Namun, bila rangkaian kata itu merupakan pelengkap (objek) yang mengakhiri pernyataan, tanda titik dua itu tidak perlu digunakan.
Ø  Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari
Ø  Fakultas ini memiliki jurusan pendidikan anak terbelakang dan anak usia dini

2.      sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
                                 Misalnya  :
Ketua                   :   Abdul Aziz
Sekretaris             :   Ny. Sarbini
Bendahara           :   Ny. Waluyo
Tempat sidang     :   Gedung A, ruang 208
dst.
l.        Penulisan Kata
Penulisan kata dapat dikelompokkan atas kata dasar, kata turunan, kata ulang, kata gabungan, kata depan, partikel, dan kata ganti.
1.      Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis satu kesatuan.
Contoh:
Buku ini buku baru
Kelas itu penuh sesak
Siswa sedang makan nasi
2.      Kata Turunan
Kata turunan adalah kata dasar yang telah berubah karena mendapatkan imbuhan baik itu awalan, sisipan, dan akhiran.Kata dasar tersebut telah dirangkai dengan imbuhan-imbuhan itu.Dari contoh-contoh ini diharapkan dapat mengingat kembali aturan- turan yang berlaku dalam bahasa Indonesia.
Contoh:
berkembang biak
melipatgandakan
memberitahukan
berwisata
belajar
beri tahukan
merindukan
pascasarjana
dasawarsa
dwiwarna

3)      Kata Ulang
Bentuk kata ulang harus ditulis lengkap dengan kata hubung. Contoh: pura-pura, mata-mata, hura-hura, mondar-mandir, sayur-mayur, undang undang, kupu-kupu, lauk-pauk.

4)      Kata Depan
Kata depan, di, ke, dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Contoh:
Ibu pergi ke Bandung
Paman datang dari Bali
Kakak tiba di Singapura

5)      Kata Ganti
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata-kata yang mengikutinya. –ku, –mu dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh: Bukuku dan bukumu tertinggal di meja perpustakaan. Apa pun yang kaumiliki tidak dapat dipinjam.

m.    Partikel
Partikel –lah, –kah, –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Marilah kita berangkat ke kampus.
Siapkah yang menang dalam pertandingan nanti?

Partikel pun ditulis terpisah dengan kata yang mendahuluinya kecuali untuk kata-kata yang telah dianggap terpadu benar seperti meskipun, adapun, kendatipun, maupun, sungguhpun, andaipun, biarpun, bagaimanapun, dan kalaupun.
Contoh:  Dia pun mengetahui sindikat tersebut.
Mobil-mobil besar pun diijinkan melewati jalan ini.

n.      Penulisan Judul
Penulisan judul yang umum digunakan dalam penulisan karya ilmiah sangat penting untuk diuraikan di sini. Dengan demikian keseragaman dalam tulisan karya ilmiah yang diatur dengan panduan ini dapat diperoleh. Judul Bagian dan Sampul Depan Laporan Judul Bagian ditulis dengan gaya penulisan semua huruf kapital. Bila terdiri atas beberapa baris, maka baris pertama paling panjang dan baris berikutnya lebih pendek serta ditulis dengan gaya di tengah-tengah.
Contoh:
PENGEMBANGAN MESIN PENDINGIN HEMAT ENERGI
STUDI TEKNO EKONOMI DALAM PERANCANGAN MESIN

Judul Bab
Judul bab ditulis dengan gaya penulisan huruf pertama kapital kecuali partikelatau kata depan.
Contoh:
Bab III
Prosedur Optimasi dan Formulasi
Bab I
Pendahuluan
Bab IV
Pengujian dan Analisis


Judul Subbab
Judul bab juga ditulis dengan gaya penulisan huruf pertama kapital kecuali partikel atau kata depan.
Contoh:
Subbab pada Bab II
2.2 Ulasan Singkat Penelitian Terdahulu
2.3 Prinsip Dasar
Subbab pada Bab III
3.3 Metode Optimasi dan Parameter Studi
3.4 Penurunan Formulasi dan Pemrograman

o.      Penyingkatan Kata
Tulis penuh semua singkatan seperti: dan lain lain, dan sebagainya, dan seterusnya (bukan ditulis dengan cara ini: dll., dsb., dst.). Penyingkatan suatu istilah dapat diberlakukan, bila memang istilah tersebut panjang dan terlalu sering muncul dalam teks.Untuk penyingkatan ini, kepanjangan istilah tersebut harus dimuculkan pertama kali ketika istilah tersebut pertama kalinya disebutkan dalam teks.


p.      Penggunaan dan Penulisan Istilah Asing
Sesuai dengan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, istilah-istilah keilmuwan ataupun teknik yang telah dibakukan sebaiknya digunakan dengan benar. Istilah-istilah asing yang sudah punya pandaan dalam bahasa Indonesia, sebaiknya penggunaan istilah Indonesia yang diutamakan.

q.      Penulisan kutipan
Dalam penulisan karya tulis ilmiah, seorang penulis sering meminjam pendapat, atau ucapan orang lain yang terdapat pada buku, majalah, bahkan bunyi pasal dalam peraturan perundang-undangan. Untuk itu seorang penulis harus memperhatikan prinsip-prinsip mengutip, yaitu:
a.       Tidak mengadakan pengubahan naskah asli yang dikutip. Kalaupun perlu mengadakan pengubahan, maka seorang penulis harus memberi keterangan bahwa kutipan tersebut telah diubah. Caranya adalah dengan memberi huruf tebal, atau memberi keterangan dengan tanda kurung segi empat;
b.      Bila dalam naskah asli terdapat kesalahan, penulis dapat memberikan tanda [sic!] langsung di belakang kata yang salah. Hal itu berarti bahwa kesalahan ada pada naskah asli dan penulis tidak bertanggung jawab atas kesalahan tersebut;
c.       Apabila bagian kutipan ada yang dihilangkan, penghilangan itii dinyatakan dengan cara membubuhkan tanda elipsis (yaitu dengan tiga titik). Penghilangan bagian kutipan tidak boleh mengakibatkan perubahan makna asli naskah yang dikutip (lihat contoh  pada lampiran 1, halaman 19).
Cara mengutip:
a.       Kutipan langsung terdiri dari tiga baris atau kurang
Cara menulis kutipan langsung yang panjangnya sampai dengan tiga baris, adalah sebagai berikut:
1.      kutipan diintegrasikan dengan naskah;
2.      jarak antara baris dengan baris dua spasi;
3.      kutipan diapit dengan tanda kutip;
4.      akhir kutipan diberi nomor urut penunjukan yang diketik setengah spasi ke atas.

b.      Kutipan langsung terdiri lebih dari tiga baris

1.      Sebuah kutipan langsung yang terdiri lebih dari tiga baris, ditulis sebagai berikut:
2.      kutipan dipisahkan dari naskah dengan jarak 3 spasi;
3.      jarak antara baris dengan baris satu spasi;
4.      kutipan bisa diapit tanda kutip, bisa juga tidak;
5.      akhir kutipan diberi nomor urut penunjukan yang diketik setengah spasi ke atas;
6.      seluruh kutipan diketik menjorok ke dalam antara 5-7 ketikan;

c.       Kutipan tidak langsung
Dalam kutipan tidak langsung penulis tidak mengutip naskah sebagaimana adanya, melainkan mengambil sari dari tulisan yang dikutip.
Cara menulis kutipan seperti ini adalah sebagai berikut:
1.      kutipan diintegrasikan dengan naskah;
2.      jarak antara baris dua spasi;
3.      kutipan tidak diapit dengan tanda kutip;
4.      akhir kutipan diberi nomor urut penunjukan yang diketik setengah spasi ke atas.
5.      Penulisan sumber kutipan
Seorang penulis yang mengutip pendapat orang lain harus mencantumkan sumber kutipan yang bersangkutan.
Ada tiga cara penulisan sumber kutipan, yaitu:
a.       American Psycological Associations Manual (APA)
Mencantumkan langsung sumber kutipan di akhir kutipan yang ditulis dalam tanda kurung.
Contoh: (Soerjono Soekanto, 1983: 23), artinya:
Kutipan tersebut diambil dari buku karangan Soerjono Soekanto yang terbit tahun 1983 pada halaman 23.
Dalam penulisan sumber semacam ini, tidak mudah untuk langsung menemukan dari sumber mana/apa kutipan tersebut diambil. Pembaca sulit mengetahui judul buku yang dikutip. Seyogyanya pada setiap akhir bab dibuat daftar pustaka. Adapun cara menu­liskan Daftar Pustaka dengan cara ini ialah, 1) nama pengarang; 2) tahun terbit; 3) judul; 4)cetakan/edisi; 5) nama kota; 6) nama penerbit.
b.       Modern Language Associations Handbook (MLA):
Memberi nomor urut pada setiap akhir kutipan, kemudian menulis sumber kutipannya di akhir bab, pada lembar khusus yang disebut "Catatan" Cara menuliskan sumber kutipan sama seperti menulis pada Catatan Kaki.
Contoh :
C a t a t a n
1. Buchari Zainun, Manajemen dan Motivasi(Jakarta: Ba­lai Aksara, 1979), hal. 27.
2. A. Hamzah, Hukum Pidana Ekonomi,cet.II, (Jakarta: Erlanqga, 1977), hal. 21.
c.       Chicago Manual of Style (Kate L. Turabian):
Cara yang lazim adalah dengan memberikan nomor unit kutipan, kemudian sumber kutipan ditulis pada kaki halaman diawali dengan nomor urut kutipan. Sumbe:r kutipan dipisahkan dari naskah dengan garis lurus sepanjang lima belas ketikan, diapit oleh ruang kosong masing-masing empat kait (spasi).
Catatan kaki diketik menjorok ke dalam 5-7 ketikan dan dilanjutkan pada baris berikutnya dimulai pada margin kiri dengan jarak satu spasi, sedangkan jarak antara baris terakhir satu catatan dengan baris pertama catatan kaki berikutnya, dua spasi. Keuntungan cara penulisan sumber kutipan dengan catatan kaki ialah, jika pada suatu ketika penulis ingin membandingkan dengan sumber lain, atau penulis ingin mene­rangkan suatu tulisan yang bukan menjadi konteks penulisan. Apabila menerangkan sesuatu langsung pada naskah dianggap akan mengganggu kesinambungan tulisan, maka dengan catatan kaki keterangan tentang sesuatu tersebut dapat dilakukan. Hal itu tidak akan mengganggu naskah dimaksud.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Penggunaan tanda baca perlu diperhatikan dalam penulisan karya tulis atau karya ilmiah. Masing masing tanda baca memiliki aturan dan tata letak penggunaanya, sehingga kita harus cermat dalam menggunakan tanda baca dan menempatkan tanda baca pada aturan yang telah di tetapkan. Penggunaan ejaan yang disempurnakan (E Y D) sangat dibutuhkan dalam penulisan karya tulis ilmiah agar sebuah karya tulis ilmiah tersebut dapat tersusun dengan baik dan mudah dipahami.Dari berbagai macam kesimpulan, maka penggunaan tanda baca perlu untuk dipahami dan dipelajari lebih detail agar penggunaan tanda baca pada karya ilmiah yang kita buat menjadi benar dan mudah dipahami oleh orang-orang yang akan membaca karya tulis kita.

B. SARAN
            Dari tugas makalah tersebut, banyak hal yang dapat kita pelajari. Seperti halnya yang sudah kami harapkan dan sampaikan pada kata pengantar tugas makalah ini, yaitu semoga dengan terselesaikannya makalah ini dapat menambah wawasan kita dan pemahaman kita mengenai pengguanaan tanda baca yang baik dan benar yang tentu saja sesuai dengan EYD.














DAFTAR PUSTAKA
Waridah Ernawati, 2012. Pedoman Umum Ejaan Yang Disempurnakan. Jakarta: PT KAWAH Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar