BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Ejaan Adalah seperangkat aturan atau kaidah pelambang
bunyi bahasa, pemisahan, penggabungan, dan penulisanya dalam suatu bahas.
Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja.
Mengeja adalah kegiatan melafalakan huruf, suku kata, atau kata, sedangakan ejaan
adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas dari sekedar masalah
pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan menggunakan
huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh
pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman hidup, terutama dalam
bahasa tulis. Keteraturan dalam bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan
kejelasan makna. Ibarat sedang menyetir kendaraan, ejaan adalah rambu lalu
lintas yang harus dipatuhi oleh setiap pengemudi. Jika para pengemudi mematuhi
rambu itu, terciptalah lalu lintas yang tertib, teratur, dan tidak semrawut.
Seperti itulah kira – kira bentuk hubungan antara pemakai dengan ejaan.
Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD). EYD yang resmi mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus
1972 ini memang upaya penyempurnaan ejaan yang sudah dipakai selam dua puluh
lima tahun sebelumnya yang dikenal dengan nama Ejaan Republik atau Ejaan
Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada tahun itu diresmikan pada
tahun 1947). Sebelum Ejaan Soewandi telah ada ejaan yang merupakan ejaan
pertama Bahasa Indonesia yaitu Ejaan Van Ophuysen (nama seorang guru besar
Belanda yang juga pemerhati bahasa) yang diberlakukan pada tahun 1901 oleh
pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia pada masa itu. Ejaan Van Ophuysen
tidak berlaku lagi pada tahun 1947.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa hakikat dan pengertian Ejaan Yang Disempurnakan
?
2. Bagaimana penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan ?
C.
TUJUAN
1. Untuk mendeskripsikan hakikat dan pengertian Ejaan
Yang Disempurnakan
2. Untuk menjelaskan penggunaan Ejaan Yang
Disempurnakan
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Penggunaan EYD
Ejaan Adalah seperangkat aturan atau kaidah pelambang
bunyi bahasa, pemisahan, penggabungan, dan penulisanya dalam suatu
bahas.Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata
mengeja.Mengeja adalah kegiatan melafalakan huruf, suku kata, atau kata,
sedangakan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas dari sekedar
masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan
menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh
pemakai bahasa demi keteraturan dan
keseragaman hidup, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan dalam bentuk akan
berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Ibarat sedang menyetir
kendaraan, ejaan adalah rambu lalu lintas yang harus dipatuhi oleh setiap
pengemudi.Jika para pengemudi mematuhi rambu itu, terciptalah lalu lintas yang
tertib, teratur, dan tidak semrawut.Seperti itulah kira – kira bentuk hubungan
antara pemakai dengan ejaan.
Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan Yang
Disempurnakan (EYD). EYD yang resmi mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus
1972 ini memang upaya penyempurnaan ejaan yang sudah dipakai selam dua puluh
lima tahun sebelumnya yang dikenal dengan nama Ejaan Republik atau Ejaan
Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada tahun itu diresmikan pada
tahun 1947). Sebelum Ejaan Soewandi telah ada ejaan yang merupakan ejaan
pertama Bahasa Indonesia yaitu Ejaan Van Ophuysen (nama seorang guru besar
Belanda yang juga pemerhati bahasa) yang diberlakukan pada tahun 1901 oleh
pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia pada masa itu. Ejaan Van Ophuysen
tidak berlaku lagi pada tahun 1947.
1. Etika
dan Kode Etik Penulisan
Etika dan kode etik yang lazim ditumbuhbudayakan dalam
penulisan karya ilmiah harus diikuti.Hak cipta dan paten dari segi hukum harus
diikuti dan difahami dengan baik.Penulis harus memahami etika penulisan karya
ilmiah secara baik.Kode etik adalah norma-norma yang telah diterima dan diakui
oleh masyarakat dan citivitas akademik perlu diperhatikan dalam penulisan karya
ilmiah.Norma ini berkaitan dengan pengutipan, perujukan, perijinan terhadap
bahan yang digunakan, dan penyebutan sumber data ataupun informan.
2. Bahasa
dan Tanda Baca
Bahasa tulisan dapat dimengerti dengan baik bila
kalimat-kalimat yang telahditulis sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku
dalam bahasa tersebut. Tandabaca berperan penting dalam bahasa tulisan. Tanda
baca yang tidak lengkap dapatmenyebabkan isi tulisan sulit dimengerti. Oleh
karena itu dalam bab ini dibahasaturan-aturan penulisan tanda baca, kata-kata
serta judul-judul yang menjadimateri dalam tulisan tersebut.
a. Penulisan
Tanda Baca
Penulisan tanda baca, kata, dan huruf mengikuti
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, Pedoman Pembentukan
Istilah, dan Kamus (Keputusan Mendikbud, Nomor 0543a/U/487, tanggal 9 September
1987). Berikut ini beberapa kaidah penting yang perlu diperhatikan.
-
titik (.)
- koma (,)
- titik dua (:)
- tanda seru (!)
- tanda tanya (?)
- tanda persen (%)
- koma (,)
- titik dua (:)
- tanda seru (!)
- tanda tanya (?)
- tanda persen (%)
semua yang di
atas harus diketik rapat dengan huruf yang mendahuluinya.
Contoh:
Tidak Baku
|
Baku
|
Sampel dipilih secara rambang .
Data dianalisis dengan teknik korelasi ,Anova , dan regresi ganda.
...
dengan teori ; kemudian ...
...
sebagai berikut :
Hal itu tidak benar !
Benarkah hal itu ?
Jumlahnya sekitar
20 %.
|
Sampel dipilih secara rambang.
Data
dianalisis dengan teknik korelasi, Anova, dan regresi ganda.
...
dengan teori; kemudian ...
...
sebagai berikut:
Hal itu tidak benar!
Benarkah hal itu?
Jumlahnya sekitar
20%.
|
Tanda kutip
("...") dan tanda kurung () diketik rapat dengan huruf dari kata atau
frasa yang diapit.
Contoh:
Tidak Baku
|
Baku
|
Kelima kelompok"
sepadan ".
Tes tersebut dianggap baku (standardized).
|
Kelima kelompok
"sepadan".
Tes tersebut dianggap baku
(standardized).
|
Tanda hubung (-), tanda
pisah (—), dan garis miring (/) diketik rapat dengan huruf yang mendahului dan
mengikutinya.
Contoh:
Tidak Baku
|
Baku
|
Tidak berbelit
- belit.
Ini terjadi selama tahun
1942 -1945.
Semua teknik analisis
yang dipakai di sini — kuantitatif dan kualitatif — perlu ditinjau.
Dia tidak /
belum mengaku.
|
Tidak berbelit-belit.
Ini terjadi selama tahun
1942-1945.
Semua teknik analisis
yang dipakai di sini—kuantitatif dan kualitatif—perlu ditinjau.
Dia tidak/belum mengaku.
|
Tanda sama dengan (=), lebih
besar (>), lebih kecil (<), tambah (+), kurang (-), kali (x), dan bagi
(:) diketik dengan spasi satu ketukan sebelum dan sesudahnya.
Contoh:
Tidak Baku
|
Baku
|
p=0,05
p>0,01
p<0,01
a+b=c
a:b=d
|
p =
0,05
p >
0,01
p <
0,01
a + b =
c
a : b =
d
|
Akan tetapi, tanda bagi ()
yang dipakai untuk memisahkan tahun penerbitan dengan nomor halaman pada
rujukan diketik rapat dengan angka yang mendahului dan mengikutinya.
Contoh:
Tidak Baku
|
Baku
|
Sadtono (1980 : 10) menyatakan
|
Sadtono (1980:10) menyatakan
|
Pemenggalan kata
pada akhir baris (-) disesuaikan dengan suku katanya.
Contoh:
Tidak Baku
|
Baku
|
Masalah ini perlu ditegaskan.
Tidak dilakukan dengan mem-babi-buta.
|
Masalah ini perlu ditegas-
kan.
Tidak dilakukan dengan mem-babi-buta.
|
b. Penggunaan Huruf
Ejaan bahasa Indonesia
menggunakan aksara Latin, yang terdiri dari 26 huruf. Setiap huruf digunakan
untuk melambangkan satu bunyi atau satu fonem, kecuali gabungan huruf kh,
ng, ny, dan sy yang juga digunakan untuk melambangkan satu
bunyi, serta huruf e yang digunakan untuk melambangkan dua
buah bunyi. Sementara huruf qdan x hanya digunakan
pada kata serapan tertentu.
Secara ortografi [1], kita
kenal adanya empat macam huruf, yaitu (1) huruf kapital, (2) huruf biasa atau
huruf kecil, (3) huruf miring, dan (4) huruf tebal (bold, fat).
c. Penggunaan
Huruf Kapital
Huruf kapital atau sering juga disebut huruf besar
digunakan pada :
1)
huruf pertama kata awal kalimat. Misalnya,
Ø Pada satu
proses
Ø Apa
maksudnya ?
Ø Kita tidak
tahu maksudnya
2)
huruf pertama pada kata pertama pada petikan langsung
atau kalimat langsung,
Ø Hakim
bertanya, “Nama Saudara siapa ?”
Ø Poltak
berseru, "Diam kau!"
Ø Petugas
polantas berkata, " Tolong tunjukkan SIM dan STNK!"
3)
huruf pertama kata atau ungkapan yang berhubungan
dengan nama Tuhan, nama kitab suci, nama agama, termasuk kata
gantinya. Misalnya :
Ø Allah, Yang
Mahakuasa, Yang Maha Pengasih; Quran, Weda, Islam, Kristen, Katolik.
Ø Bimbinglah
hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau ridhoi.
Ø Mohon
ampunlah kepada-Nya.
4)
huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan
keagamaan yang diikuti nama diri. Misalnya :
Ø Mahaputera
Yamin; Sultan Hasanudin; Haji Agus Salim; Imam Syafi'i; Nabi Muhammad.
Namun, kalau tidak diikuti nama diri, huruf
kapital itu tidak digunakan. Misalnya,
Ø Tahun ini ia
pergi naik haji.
Ø Beliau baru
dinobatkan jadi sultan.
Ø Banyak orang
mengaku nabi pada awal abad ke-21 ini.
5)
huruf pertama unsur nama jabatan dan nama pangkat yang
diikuti nama diri, atau yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu,
nama instansi, atau nama tempat. Misalnya :
Ø Wakil
Presiden
Budiono.
Ø Sekretaris
Jenderal Departemen Pertanian.
Ø Gubernur DKI
Jaya.
Ø Profesor
Doktor Bejo Suyanto.
Namun, kalau tidak diikuti nama diri, nama
jabatan, nama orang, nama instansi atau nama tempat, huruf kapital itu tidak
dipakai. Misalnya :
Ø Siapa
gubernur yang baru dilantik itu.
Ø Beberapa
orang jenderal hadir di situ.
Ø Kemarin
Letnan Jenderal Ahmad dilantik menjadi jenderal.
6)
huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Contohnya :
Ø Halim
Perdana Kusuma.
Ø Wage Rudolf
Supratman.
Ø Helvy Tiara
Rosa.
Namun, kalau nama orang itu digunakan
sebagai nama benda, nama jenis, dan nama ukuran, maka huruf kapital tidak
digunakan. Contohnya :
Ø mesin diesel
Ø 10 volt
Ø 5 ampere
7)
huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan nama
bahasa. Contohnya :
Ø bangsa
Indonesia
Ø suku Batak
Ø bahasa
Inggris
Namun,
kalau nama bangsa, nama suku bangsa dan nama bahasa itu digunakan sebagai
bentuk dasar sebuah kata turunan, huruf kapital itu tidak digunakan.
Contohnya :
Ø mengindonesiakan
kata
asing
Ø agak
kejawa-jawaan
Ø wanita
yang kebelanda-belandaan
8)
huruf pertama nama tahun, nama bulan, nama hari, nama
hari raya, dan nama peristiwa sejarah. Contohnya :
Ø tahun
Hijriah
Ø bulan
Agustus
Ø hari
Jumat
Ø hari Natal
Ø Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia
9)
huruf pertama nama
geografi. Contohnya :
Ø Asia
Tenggara
Ø Bukit
Barisan
Ø Gorontalo
Ø Danau
Limboto
Ø Gunung
Salak
Ø Selat Sunda
Ø Teluk
Jakarta
Ø Kali Brantas
Namun,
pada istilah geografi yang bukan merupakan nama diri, huruf
kapital tidak digunakan. Contohnya :
Ø berlayar ke
teluk
Ø mandi di
kali
Ø menyeberangi
selat
Ø menuju arah
utara
Pada
nama geografi yang dipakai sebagai nama jenis, huruf kapital juga tidak digunakan.
Contohnya :
Ø garam
inggris
Ø gulajawa
Ø salak
bali
Ø dodol garut
Ø sate
madura
Ø pisang ambon
10) huruf
pertama unsur-unsur nama negara, nama lembaga pemerintahan, dan nama dokumen
resmi; kecuali kata seperti, dan, atau, ataupun kepada. Contoh
:
Ø Republik
Indonesia
Ø Majelis
Permusyawaratan Rakyat
Ø Departeman
Pendidikan Nasional
Ø Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 57, Tahun
1972
Namun, simak contoh
berikut !
Ø menurut undang-undang yang
berlaku
Ø menjadi
sebuah negara republik
Ø beberapa
badan hukum
11) huruf
pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga
pemerintahan, dan dokumen resmi. Contoh :
Ø Undang-Undang
Dasar
1945
Ø Perserikatan
Bangsa-Bangsa
Ø Yayasan
Ilmu-Ilmu Sosial
12) huruf
pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul
karangan; kecuali kata di, ke, dan, yang untuk; yang tidak terletak
pada posisi awal. Contohnya :
Ø Bukunya
berjudul Membongkar Gurita Cikeas
Ø Dia agen
surat kabar Media
Indonesia
Ø Bacalah
majalah Tempo minggu lalu
13) huruf
pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Contohnya :
Ø Dr. → doktor
Ø M.A. → master
of art
Ø Prof. → profesor
Ø Tn. → tuan
Ø Sdr. → saudara
14) huruf
pertama kata perkerabatan seperti bapak, ibu, kakak,
saudara, dan adik yang dipakai sebagai kata ganti, kata sapaan,
atau kata sebutan (pengacuan). Contoh :
Ø "Kapan
Bapak berangkat ?" tanya Hasan
Ø Adik
bertanya, "Itu apa, Bu
?"
Ø "Silakan
duduk, Kak " kata Adi
Ø Besok Paman
akan datang
Namun, bila kata perkerabatan dipakai sebagai istilah
perkerabatan, huruf kapital tidak digunakan.
Ø Kita harus
menghormati bapak dan ibu kita
Ø Semua kakak dan adik saya
sudah menikah
15) huruf
pertama kata ganti Anda. Contoh
:
Ø Apakah Anda
sudah berkeluarga ?
Ø Surat Anda
sudah kami terima
d. Penggunaan Huruf Kecil
Huruf kecil digunakan pada tempat yang tidak menggunakan
huruf kapital.
e. Penggunaan Huruf
Miring
Huruf miring digunakan
untuk :
1. menuliskan
nama buku, nama majalah, dan nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Contoh :
Ø Bukunya
berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang
Ø Setiap
pagi dia membaca koran Kompas
Ø Majalah Bahasa
dan Sastra terbitan Pusat Bahasa
2. menuliskan
istilah ilmiah, dan kata atau ungkapan asing yang ejaannya belum disesuaikan.
Contoh :
Ø Nama ilmiah
nyamuk penyebab deman berdarah adalah aedes agypti
Ø Politik devide
et empera pernah merajalela di negara kita
Ø Bailout pada
Bank Century menjadi topik pembicaraan di DPR
3. menuliskan
kata-kata yang dianggap belum baku. Contoh :
Ø Beliau
memang nggak tahu
Ø Keadaan
semakin semrawut
Ø Di sini kamu
jangan berlaku neko-neko
4. menuliskan
kata atau huruf yang dianggap penting dalam sebuah teks. Contoh :
Ø Buatlah
kalimat dengan kata apalagi dan kata lagi pula
Ø Dalam bab
ini tidak dibicarakan penulisan huruf kapital
Ø Dia
bukan menipu, melainkan ditipu
f. Penggunaan Huruf Tebal
(bold, fat)
Penggunaan huruf tebal belum atau
tidak diatur dalam pedoman EYD (ejaan yang disempurnakan); tetapi tampaknya
huruf tebal digunakan pada kata-kata yang dianggap penting. Dalam tulisan
tangan atau ketikan manual kata-kata yang akan dicetak tebal diberi dua garis
bawah.
g. Penggunaan Tanda Baca
Dalam bahasa tulis, tanda baca ini
sangat penting karena dengan adanya tanda baca itu kita akan terbantu untuk
dapat memahami suatu tulisan. Dalam sistem ejaan dikenal adanya tanda baca
titik (.), koma (,), titik koma (;), titik dua (:), tanda tanya (?), tanda
seru (!), tanda petik ("......"), tanda hubung (-), tanda pisah (—),
tanda kurung ([......]), tanda garis miring (/), dan tanda penyingkat (').
Bagaimana menggunakan tanda baca itu, dijelaskan di bawah.
h. Penggunaan Tanda Titik
( . )
a.
Tanda titik digunakan pada akhir kalimat yang bukan
pertanyaan atau seruan.
Misalnya :
Ø Ayahku
mantan anggota DPR.
Ø KPK menahan
Anggodo Widjoyo kemarin.
Ø Partai
koalisi mulai retak.
b.
Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam,
menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Misalnya :
Ø pukul
3.15.10 (pukul 3 lewat 15 menit 20 detik)
c.
Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam,
menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
Misalnya :
Ø 5.35.20 jam
(5 jam, 35 menit, 20 detik)
Ø 0.25.30 jam
(25 menit, 30 detik)
Ø 0.0.30
jam (30 detik)
d.
Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan
atau kelipatannya.
Misalnya
:
Ø Penduduk di
desa itu ada 25.325 orang
Ø Harganya Rp
4.850.000,-
Ø Gempa di
sana menelan 1.274 jiwa tewas
e.
Tanda titik tidak digunakan untuk memisahkan
bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya :
Ø Dia lahir
tahun 1951 di Surabaya
Ø Nomor teleponnya
adalah 8657712
Ø Nomor
pendaftarannya adalah 2657718
f.
Tanda titik tidak digunakan pada akhir judul
berita, judul karangan, judul tabel, dan sebagainya.
Misalnya :
Ø Tabrakan
Beruntun di Jalan Tol
Ø Habis Gelap
Terbitlah Terang
Ø Masalah
Kawin Siri-di Indonesia
g.
Tanda titik tidak digunakan di belakang (1)
alamat pengirim dan tanggal surat; dan (2) nama dan alamat penerima surat.
Misalnya :
Ø Jalan Taman
Malaka Utara
5
Ø Jakarta
Timur
Ø 25 Februari
2015
i.
Penggunaan Tanda Koma ( , )
Tanda baca koma ( , ) digunakan dengan aturan sebagai
berikut :
1)
digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu perincian
atau pembilangan.
Misalnya :
Ø Yang hadir
anggota fraksi Golkar, fraksi PDIP, fraksi PKS, dan fraksi Demokrasi
Ø Yang salah
jawaban nomor 8, 9, 12, 13, dan 15
2)
digunakan untuk memisahkan bagian kalimat setara yang
satu dari bagian kalimat setara lainnya yang didahului oleh konjungsi
seperti tetapi dan melainkan.
Misalnya :
Ø Saya ingin
hadir, tetapi tidak diundang
Ø Yang
menyusahkan rakyat bukan hanya penjahat, melainkan juga
pejabat
3)
digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk
kalimat bila anak kalimat itu mendahului induk kalimat.
Misalnya :
Ø Karena
sakit, dia tidak jadi datang
Ø Kalau
diundang, saya tentu datang
Catatan :
Kalau anak kalimat berada di belakang induk kalimat,
maka tanda koma itu tidak digunakan.
Misalnya :
Ø Dia tidak
jadi datang karena sakit
Ø Saya tentu
datang kalau diundang
4)
digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung
antar-kalimat yang terdapat pada awal kalimat sepertijadi, oleh karena itu,
akan tetapi, maka dan sebagainya.
Misalnya :
Ø Jadi,
utangmu semua menjadi 10 juta rupiah
Ø Oleh karena
itu, kita harus selalu waspada
Ø Akan
tetapi, saya masih akan mencoba lagi tahun depan
5)
digunakan di belakang kata seruan seperti oh,
nah, aduh, ya, alangkah, dan kasihan di dalam sebuah kalimat.
Misalnya :
Ø Oh, begitu
?
Ø Wah, bukan
main besarnya!
Ø Hati-hati, ya, nanti
jatuh
6)
digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari
bagian lain dalam kalimat.
Misalnya :
Ø Kata ibu,
"Saya senang sekali."
Ø "Saya
gembira sekali", kata bapak, "karena terpilih jadi anggota DPR."
7)
digunakan di antara nama orang dan gelar akademik yang
mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, nama keluarga atau
marga.
Misalnya :
Ø Dr. Ahmad
Dimyati, S.H
Ø Ny. Komala
Sari, MA.
Ø Abdul Aziz,
M. Hum.
a) digunakan di
muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan
angka.
Misalnya :
Ø 12,5
Cm
Ø Rp
1.255,25
8)
digunakan untuk mengapit keterangan tambahan (aposisi)
yang sifatnya tidak membatasi.
Misalnya :
Ø Ruhut
Sitompul, anggota pansus dari partai Demokrat, sering membuat ulah
Ø Sukarno,
presiden pertama RI, dimakamkan di Blitar
Ø Banyak
anggota DPR, dari fraksi mana pun, disinyalir sering bolos dari sidang
9)
dapat digunakan untuk menghindari salah baca dan salah
paham di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya :
Ø Dalam
pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang sungguh-sungguh
Ø Atas bantuan
Agus, Karyadi mengucapkan banyak terima kasih
Ø Menurut
keterangan bapak, Iskandar adalah anggota DPRD yang baru dilantik
10) tidak digunakan
untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringnya dalam
kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Misalnya :
Ø "Saudara
bekerja di mana?" tanya ayah
Ø "Ayo
kita serang !" teriaknya
keras-keras
j.
Penggunaan Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma dapat digunakan
untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya :
Ø Malam
semakin larut; pekerjaan belum selesai juga; aku jadi bingung
Ø Ayah membaca
koran di ruang tamu; ibu sibuk di dapur; adik mengerjakan PR; saya sendiri
asyik menonton televisi
Catatan :
Jika kita lihat contoh di atas, sebenarnya tanda titik
koma itu bisa diganti dengan tanda koma.
k. Penggunaan
Tanda Titik Dua ( : )
Tanda titik dua dapat digunakan :
1.
pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti
rangkaian atau pemerian.
Misalnya :
Ø Kita
sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari
Ø Hanya ada
dua pilihan bagi pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati
Namun, bila rangkaian kata itu merupakan pelengkap
(objek) yang mengakhiri pernyataan, tanda titik dua itu tidak perlu digunakan.
Ø Kita
memerlukan kursi, meja, dan lemari
Ø Fakultas ini
memiliki jurusan pendidikan anak terbelakang dan anak usia dini
2.
sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya :
Ketua : Abdul
Aziz
Sekretaris : Ny.
Sarbini
Bendahara : Ny.
Waluyo
Tempat
sidang : Gedung A, ruang 208
dst.
l.
Penulisan Kata
Penulisan kata dapat dikelompokkan
atas kata dasar, kata turunan, kata ulang, kata gabungan, kata depan, partikel,
dan kata ganti.
1. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis satu kesatuan.
Contoh:
Buku ini buku baru
Kelas itu penuh sesak
Siswa sedang makan nasi
2. Kata Turunan
Kata turunan adalah kata dasar yang
telah berubah karena mendapatkan imbuhan baik itu awalan, sisipan, dan
akhiran.Kata dasar tersebut telah dirangkai dengan imbuhan-imbuhan itu.Dari
contoh-contoh ini diharapkan dapat mengingat kembali aturan- turan yang berlaku
dalam bahasa Indonesia.
Contoh:
berkembang biak
melipatgandakan
memberitahukan
berwisata
belajar
beri tahukan
merindukan
pascasarjana
dasawarsa
dwiwarna
3) Kata Ulang
Bentuk kata ulang harus ditulis
lengkap dengan kata hubung. Contoh: pura-pura, mata-mata, hura-hura,
mondar-mandir, sayur-mayur, undang undang, kupu-kupu, lauk-pauk.
4) Kata Depan
Kata depan, di, ke, dari ditulis
terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah
dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Contoh:
Ibu pergi ke Bandung
Paman datang dari Bali
Kakak tiba di Singapura
5) Kata Ganti
Kata ganti ku dan kau ditulis
serangkai dengan kata-kata yang mengikutinya. –ku, –mu dan –nya ditulis
serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh: Bukuku dan bukumu tertinggal di meja
perpustakaan. Apa pun yang kaumiliki tidak dapat dipinjam.
m. Partikel
Partikel –lah, –kah, –tah ditulis serangkai dengan
kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Marilah kita berangkat ke kampus.
Siapkah yang menang dalam pertandingan nanti?
Partikel pun ditulis terpisah
dengan kata yang mendahuluinya kecuali untuk kata-kata yang telah dianggap
terpadu benar seperti meskipun, adapun, kendatipun, maupun, sungguhpun,
andaipun, biarpun, bagaimanapun, dan kalaupun.
Contoh: Dia pun mengetahui sindikat
tersebut.
Mobil-mobil besar pun diijinkan melewati jalan ini.
n. Penulisan
Judul
Penulisan judul yang umum digunakan
dalam penulisan karya ilmiah sangat penting untuk diuraikan di sini. Dengan
demikian keseragaman dalam tulisan karya ilmiah yang diatur dengan panduan ini
dapat diperoleh. Judul Bagian dan Sampul Depan Laporan Judul Bagian ditulis
dengan gaya penulisan semua huruf kapital. Bila terdiri atas beberapa baris,
maka baris pertama paling panjang dan baris berikutnya lebih pendek serta
ditulis dengan gaya di tengah-tengah.
Contoh:
PENGEMBANGAN MESIN PENDINGIN HEMAT ENERGI
STUDI TEKNO EKONOMI DALAM PERANCANGAN
MESIN
Judul Bab
Judul bab ditulis dengan gaya penulisan huruf pertama
kapital kecuali partikelatau kata depan.
Contoh:
Bab III
Prosedur Optimasi dan Formulasi
Bab I
Pendahuluan
Bab IV
Pengujian dan Analisis
Judul Subbab
Judul bab juga ditulis dengan gaya penulisan huruf
pertama kapital kecuali partikel atau kata depan.
Contoh:
Subbab pada Bab II
2.2 Ulasan Singkat Penelitian Terdahulu
2.3 Prinsip Dasar
Subbab pada Bab III
3.3 Metode Optimasi dan Parameter Studi
3.4 Penurunan Formulasi dan Pemrograman
o. Penyingkatan
Kata
Tulis penuh semua singkatan
seperti: dan lain lain, dan sebagainya, dan seterusnya (bukan ditulis dengan
cara ini: dll., dsb., dst.). Penyingkatan suatu istilah dapat diberlakukan,
bila memang istilah tersebut panjang dan terlalu sering muncul dalam teks.Untuk
penyingkatan ini, kepanjangan istilah tersebut harus dimuculkan pertama kali
ketika istilah tersebut pertama kalinya disebutkan dalam teks.
p. Penggunaan
dan Penulisan Istilah Asing
Sesuai dengan fungsi bahasa
Indonesia sebagai bahasa nasional, istilah-istilah keilmuwan ataupun teknik
yang telah dibakukan sebaiknya digunakan dengan benar. Istilah-istilah asing
yang sudah punya pandaan dalam bahasa Indonesia, sebaiknya penggunaan istilah
Indonesia yang diutamakan.
q. Penulisan
kutipan
Dalam penulisan karya tulis ilmiah, seorang penulis
sering meminjam pendapat, atau ucapan orang lain yang terdapat pada buku,
majalah, bahkan bunyi pasal dalam peraturan perundang-undangan. Untuk itu
seorang penulis harus memperhatikan prinsip-prinsip mengutip, yaitu:
a. Tidak
mengadakan pengubahan naskah asli yang dikutip. Kalaupun perlu mengadakan
pengubahan, maka seorang penulis harus memberi keterangan bahwa kutipan
tersebut telah diubah. Caranya adalah dengan memberi huruf tebal, atau memberi
keterangan dengan tanda kurung segi empat;
b. Bila
dalam naskah asli terdapat kesalahan, penulis dapat memberikan tanda [sic!]
langsung di belakang kata yang salah. Hal itu berarti bahwa kesalahan ada pada
naskah asli dan penulis tidak bertanggung jawab atas kesalahan tersebut;
c. Apabila
bagian kutipan ada yang dihilangkan, penghilangan itii dinyatakan dengan cara
membubuhkan tanda elipsis (yaitu dengan tiga titik). Penghilangan bagian
kutipan tidak boleh mengakibatkan perubahan makna asli naskah yang dikutip
(lihat contoh pada lampiran 1, halaman
19).
Cara mengutip:
a.
Kutipan langsung terdiri dari tiga baris
atau kurang
Cara menulis
kutipan langsung yang panjangnya sampai dengan tiga baris, adalah sebagai
berikut:
1.
kutipan diintegrasikan dengan naskah;
2.
jarak antara baris dengan baris dua
spasi;
3.
kutipan diapit dengan tanda kutip;
4.
akhir kutipan diberi nomor urut
penunjukan yang diketik setengah spasi ke atas.
b.
Kutipan langsung terdiri lebih dari tiga
baris
1.
Sebuah kutipan langsung yang terdiri
lebih dari tiga baris, ditulis sebagai berikut:
2.
kutipan dipisahkan dari naskah dengan
jarak 3 spasi;
3.
jarak antara baris dengan baris satu
spasi;
4.
kutipan bisa diapit tanda kutip, bisa
juga tidak;
5.
akhir kutipan diberi nomor urut
penunjukan yang diketik setengah spasi ke atas;
6.
seluruh kutipan diketik menjorok ke
dalam antara 5-7 ketikan;
c.
Kutipan tidak langsung
Dalam kutipan
tidak langsung penulis tidak mengutip naskah sebagaimana adanya, melainkan
mengambil sari dari tulisan yang dikutip.
Cara menulis
kutipan seperti ini adalah sebagai berikut:
1.
kutipan diintegrasikan dengan naskah;
2.
jarak antara baris dua spasi;
3.
kutipan tidak diapit dengan tanda kutip;
4.
akhir kutipan diberi nomor urut
penunjukan yang diketik setengah spasi ke atas.
5.
Penulisan sumber kutipan
Seorang penulis yang mengutip pendapat orang lain harus mencantumkan
sumber kutipan yang bersangkutan.
Ada tiga cara
penulisan sumber kutipan, yaitu:
a.
American Psycological Associations
Manual (APA)
Mencantumkan
langsung sumber kutipan di akhir kutipan yang ditulis dalam tanda kurung.
Contoh:
(Soerjono Soekanto, 1983: 23), artinya:
Kutipan tersebut
diambil dari buku karangan Soerjono Soekanto yang terbit tahun 1983 pada
halaman 23.
Dalam penulisan
sumber semacam ini, tidak mudah untuk langsung menemukan dari sumber mana/apa
kutipan tersebut diambil. Pembaca sulit mengetahui judul buku yang dikutip.
Seyogyanya pada setiap akhir bab dibuat daftar pustaka. Adapun cara menuliskan
Daftar Pustaka dengan cara ini ialah, 1) nama pengarang; 2) tahun terbit; 3)
judul; 4)cetakan/edisi; 5) nama kota; 6) nama penerbit.
b.
Modern Language Associations Handbook (MLA):
Memberi nomor
urut pada setiap akhir kutipan, kemudian menulis sumber kutipannya di akhir
bab, pada lembar khusus yang disebut "Catatan" Cara menuliskan sumber
kutipan sama seperti menulis pada Catatan Kaki.
Contoh :
C a t a t a n
1. Buchari
Zainun, Manajemen dan Motivasi(Jakarta: Balai Aksara, 1979), hal. 27.
2. A. Hamzah,
Hukum Pidana Ekonomi,cet.II, (Jakarta: Erlanqga, 1977), hal. 21.
c.
Chicago Manual of Style (Kate L.
Turabian):
Cara yang lazim adalah dengan memberikan nomor unit
kutipan, kemudian sumber kutipan ditulis pada kaki halaman diawali dengan nomor
urut kutipan. Sumbe:r kutipan dipisahkan dari naskah dengan garis lurus
sepanjang lima belas ketikan, diapit oleh ruang kosong masing-masing empat kait
(spasi).
Catatan kaki diketik menjorok ke dalam 5-7 ketikan dan
dilanjutkan pada baris berikutnya dimulai pada margin kiri dengan jarak satu
spasi, sedangkan jarak antara baris terakhir satu catatan dengan baris pertama
catatan kaki berikutnya, dua spasi. Keuntungan cara penulisan sumber kutipan
dengan catatan kaki ialah, jika pada suatu ketika penulis ingin membandingkan
dengan sumber lain, atau penulis ingin menerangkan suatu tulisan yang bukan
menjadi konteks penulisan. Apabila menerangkan sesuatu langsung pada naskah
dianggap akan mengganggu kesinambungan tulisan, maka dengan catatan kaki
keterangan tentang sesuatu tersebut dapat dilakukan. Hal itu tidak akan
mengganggu naskah dimaksud.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Penggunaan tanda baca
perlu diperhatikan dalam penulisan karya tulis atau karya ilmiah. Masing masing
tanda baca memiliki aturan dan tata letak penggunaanya, sehingga kita harus
cermat dalam menggunakan tanda baca dan menempatkan tanda baca pada aturan yang
telah di tetapkan. Penggunaan ejaan yang disempurnakan (E Y D) sangat
dibutuhkan dalam penulisan karya tulis ilmiah agar sebuah karya tulis ilmiah
tersebut dapat tersusun dengan baik dan mudah dipahami.Dari berbagai macam
kesimpulan, maka penggunaan tanda baca perlu untuk dipahami dan dipelajari
lebih detail agar penggunaan tanda baca pada karya ilmiah yang kita buat
menjadi benar dan mudah dipahami oleh orang-orang yang akan membaca karya tulis
kita.
B. SARAN
Dari tugas makalah tersebut, banyak hal yang dapat kita pelajari. Seperti
halnya yang sudah kami harapkan dan sampaikan pada kata pengantar tugas makalah
ini, yaitu semoga dengan terselesaikannya makalah ini dapat menambah wawasan
kita dan pemahaman kita mengenai pengguanaan tanda baca yang baik dan benar
yang tentu saja sesuai dengan EYD.
DAFTAR PUSTAKA
Waridah
Ernawati, 2012. Pedoman Umum Ejaan Yang
Disempurnakan. Jakarta: PT KAWAH Media
Tidak ada komentar:
Posting Komentar