BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Sastra adalah suatu
kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Sastra juga cabang ilmu pengetahuan. Studi
sastra memiliki metode-metode yang absah dan ilmiah, walau tidak selalu sama
dengan metode ilmu-ilmu alam. Bedanya hanya saja ilmu-ilmu alam berbeda dengan
tujuan ilmu-ilmu budaya. Ilmu-ilmu alam mempelajari fakta-fakta yang berulang,
sedangkan sejarah mengkaji fakta-fakta yang silih berganti. Karya sastra pada
dasarnya bersifat umum dan sekaligus bersifat khusus, atau lebih tepat lagi :
individual dan umum sekaligus. Studi sastra adalah sebuah cabang ilmu
pengetahuan yang berkembang terus-menerus.
Dengan berkembangannya
ilmu tentang sastra maka bukan hanya unsur-unsur yang terdapat didalam sebuah
karya sastra saja yang dapat dikaji atau analisis tetapi pada saat ini sastra
juga dapat dikaji berdasarkan faktor-faktor yang berasal dari luar sastra itu.
Faktor-faktor dari luar karya sastra yaitu sosiologi sastra, psikologi sastra
serta antropologi sastra. Sosiologi sastra dianalisis dalam kaitannya dengan
masyarakat yang menghasilkannya sebagai latar belakang sosialnya. Antropologi
sastra, dibangun atas dasar asumsi-asumsi genesis, dalam kaitannya dengan asal
usul sastra.
Psikologi Sastra adalah
analisis teks dengan mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologis.
Artinya, psikologi turut berperan penting dalam penganalisisan sebuah karya
sastra dengan bekerja dari sudut kejiwaan karya sastra tersebut baik dari unsur
pengarang, tokoh, maupun pembacanya. Dengan dipusatkannya perhatian pada
tokoh-tokoh, maka akan dapat dianalisis konflik batin yang terkandung dalam
karya sastra. Jadi, Secara umum dapat disimpulkan bahwa hubungan antara sastra
dan psikologi sangat erat hingga melebur dan melahirkan ilmu baru yang disebut
dengan “Psikologi Sastra”.
Analisis Teori
Psikologi Sastra yang dilanjutkan dengan Teori Psikoanalisis dan diaplikasikan
dengan meminjam teori kepribadian ahli psikologi terkenal Sigmund Freud. Dengan
meletakkan teori Freud sebagai dasar penganalisisan, maka pemecahan masalah
akan gangguan kejiwaan tokoh utama akan dapat dijembatani secara bertahap.
Didalam makalah ini akan dikaji secara terperinci tentang psikologi sastra dan
pengaplikasiannya.
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
yang dimaksud dengan Psikologi Sastra ?
2. Bagaimana
metode dalam menganalisis Novel Edensor ?
3. Bagaimana
teknik yang digunakan dalam menganalisis novel dengan pendekatan psikologi
sastra ?
4. Bagaimana
kejiwaan tokoh dalam novel edensor ?
C. TUJUAN
1. Untuk
dapat mendeskripsikan pengertian Psikologi Sastra
2. Untuk
dapat mendeskripsikan metode dalam menganalisis novel edendor
3. Untuk
dapat mendeskripsikan teknik dalam menganalisis novel dengan pendekatan
psikologi sastra
4. Untuk
dapat mendeskripsikan kejiwaan beberapa tokoh dalam novel edensor
BAB II
ISI
A. Pengertian
Psikologi Sastra
Psikologi secara sempit
dapat diartikan sebagai ilmu tentang jiwa. Sedangkan sastra adalah ilmu tentang
karya seni dengan tulis-menulis. Maka jika diartikan secara keseluruhan,
psikologi sastra merupakan ilmu yang mengkaji karya sastra dari sudut
kejiwaannya.
Menurut Ratna
(2004:350), “Psikologi Sastra adalah analisis teks dengan mempertimbangkan
relevansi dan peranan studi psikologis”. Artinya, psikologi turut berperan
penting dalam penganalisisan sebuah karya sastra dengan bekerja dari sudut
kejiwaan karya sastra tersebut baik dari unsur pengarang, tokoh, maupun
pembacanya. Dengan dipusatkannya perhatian pada tokoh-tokoh, maka akan dapat
dianalisis konflik batin yang terkandung dalam karya sastra.. Secara umum dapat
disimpulkan bahwa hubungan antara sastra dan psikologi sangat erat hingga
melebur dan melahirkan ilmu baru yang disebut dengan “Psikologi Sastra”.
Artinya, dengan meneliti sebuah karya sastra melalui pendekatan Psikologi
Sastra, secara tidak langsung kita telah membicarakan psikologi karena dunia
sastra tidak dapat dipisahkan dengan nilai kejiwaan yang mungkin tersirat dalam
karya sastra tersebut.
Menurut Wellek dan
Austin (1989:90), Istilah psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan
pengertian. Yang pertama adalah studi psikologi pengarang sebagai tipe atau
sebagai pribadi. Yang kedua adalah studi proses kreatif. Yang ketiga studi tipe
dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Dan yang keempat
mempelajari dampak sastra pada pembaca (psikologi pembaca). Pendapat Wellek dan
Austin tersebut memberikan pemahaman akan begitu luasnya cakupan ilmu psikologi
sastra. Psikologi sastra tidak hanya berperan dalam satu unsur saja yang
membangun sebuah karya sastra. Mereka juga menyebutkan, “Dalam sebuah karya
sastra yang berhasil, psikologi sudah menyatu menjadi karya seni, oleh karena
itu, tugas peneliti adalah menguraikannya kembali sehingga menjadi jelas dan
nyata apa yang dilakukan oleh karya tersebut”
B. Metodologi
Analisis
1. Metode
Harus kita akui, bahwa
di indonesia analisis tentang psikologi sastra sangat lambat perkembangannya
hal ini disebabkan karena : a). Psikologi satra seolah-olah hanya berkaitan
dengan manusia sebagai individu, kurang memberikan peranan terhadap subjek
transindividual, sehingga analisis dianggap sempit, b). Dikaitkan dengan
tradisi intelektual, teori-teori psikologis sangat terbatas, sehingga para
sarjana sastra kurang kurang memiliki pemahaman terhadap bidang psikologin
sastra, c). Berkaitan dengan masalah yang pertama dan kedua , relevansi analisis
psikologi pada gilirannya kurang menarik minat, khususnya dikalangan mahasiswa,
yang dapat dibuktikan dengan sedikitnya skripsi dan karya tulis yang lain yang
memanfaatkan pendekatan psikologi sastra.
Sebenarnya didalam
karya sastra memiliki aspek-aspek kejiwaan yang sangat kaya, maka analisis
psikologi harus dimotivasi dan dikembangkan secara lebih serius lagi. Tujuan
psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam
suatu karya sastra. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa analisis psikologi
sastra sama sekali terlepas denga kebutuhan masyarakat. Sesuai dengan
hakikatnya, karya sastra memberikan pemahaman terhadap masyarakat secara tidak
langsung. Misalnya melalu pemahaman terhadap tokoh-tokohnya , misalnya,
masyarakat dapat memahami perubahan, kontradiksi, dan penyimpangan-pemyimpangan
lain yang terjadi didalam masyarakat, khususnya dalam kaitannya dengan psike.
Menurut Wellek dan
Warren ( 1962: 81 ) membedakan analisis psikologis menjadi dua macam yaitu
studi psikologi yang semata-mata berkaitan dengan pengarang. Sedangkan studi
yang kedua berhubungan dengan inspirasi, ilham, dan kekuatan-kekuatan
supranatural lainnya. Pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada
masalah yang kedua, yaitu pembicaraan dalam kaitannya dengan unsur kejiwaan
tokoh-tokoh fiksional yang terkandung didalam karya sastra. Pada umumnya
aspek-aspek kemanusiaan yang merupakan objek utama didalam psikologi sastra,
sebab semata-mata dalam diri manusia itulah, sebagai tokoh-tokoh , aspek kejiwaan
dicangkokkan dan diinvestasikan.
Dengan penjelasan
diatas maka penelitian psikologi sastra dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi kemudian dilakukan analisis
terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah
karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori
psikologi yang dianggap relevan untuk melakukan analisis. Pada umumnya
metodologi penelitian yang pertama memiliki kecenderungan untuk menempatkan karya
satra sebagai gejala sekunder sebab cara-cara penelitian yang dimaksudkan
menganggap karya sastra sebagai gejala yang pasif, atau semata-mata sebgai
objek untuk mengaplikasikan teori.
Psikologi sastra
sebagaimana dimaksudkan dalam pembicaraan ini adalah cara-cara penelitian yang
dilakukan dengan menempatkan karya sastra sebagai gejala yang dinamis. Karya
sastralah yang menentukan teori, bukan sebaliknya. Dengan mengambil analogi
hubungan antara psikolog dengan pasien diatas pada dasarnya sudah menjadi keseimbangan
antara karya sastra dengan teori.
2. Teknik
Psikoanalisis pertama
kali dimunculkan oleh “Bapak Psikoanalisis” terkenal Sigmund Freud yang berasal
dari Austria. “Psikoanalisis adalah istilah khusus dalam penelitian psikologi
sastra” (Endraswara, 2008:196). Artinya, psikoanalisis ini banyak diterapkan
dalam setiap penelitian sastra yang mempergunakan pendekatan psikologis.
Umumnya, dalam setiap pelaksanaan pendekatan psikologis terhadap penelitian
sastra, yang diambil dari teori psikoanalisis ini hanyalah bagian-bagian yang
berguna dan sesuai saja, terutama yang berkaitan dengan pembahasan sifat dan
perwatakan manusia. Pembahasan sifat dan perwatakan manusia tersebut meliputi
cakupan yang relatif luas karena manusia senantiasa menunjukkan keadaan jiwa yang
berbeda-beda.
Psikoanalisis juga
menguraikan kelainan atau gangguan jiwa, “Namun dapat dipastikan bahwa
Psikoanalisis bukanlah merupakan keseluruhan dari ilmu jiwa, tetapi merupakan
suatu cabang dan mungkin malahan dasar dari keseluruhan ilmu jiwa” (Calvin,
1995:24). Berdasarkan pernyataan tersebut secara umum dapat disimpulkan bahwa
psikoanalisis merupakan tombak dasar penelitian kejiwaan dalam mencapai tahap
penelitian yang lebih serius, khususnya karya sastra dalam hal ini.
Psikoanalisis dalam karya sastra berguna untuk menganalisis tokoh-tokoh dalam
drama atau novel secara psikologis. Tokoh-tokoh tersebut umumnya merupakan
imajinasi atau khayalan pengarang yang berada dalam kondisi jiwa yang sehat
maupun terganggu, lalu dituangkan menjadi sebuah karya yang indah. Keadaan jiwa
yang sehat dan terganggu inilah yang menjadi cermin lahirnya karya dengan tokoh
berjiwa sehat maupun terganggu.
Konsep Freud yang
paling mendasar adalah teorinya tentang ketidaksadaran. Pada awalnya, Freud
membagi taraf kesadaran manusia menjadi tiga lapis, yakni
lapisan unconscious (taksadar),
lapisan preconscious (prasadar), dan
lapisan conscious (sadar). Di antara tiga lapisan itu, taksadar
adalah bagian terbesar yang memengaruhi perilaku manusia. Freud
menganalogikannya dengan fenomena gunung es di lautan, di mana bagian paling
atas yang tampak di permukaan laut mewakili lapisan sadar. Prasadar adalah
bagian yang turun-naik di bawah dan di atas permukaan. Sedangkan bagian
terbesar justru yang berada di bawah laut, mewakili taksadar.
Dalam buku-bukunya yang
lebih mutakhir, Freud meninggalkan pembagian lapisan kesadaran di atas, dan
menggantinya dengan konsep yang lebih teknis. Tetapi basis konsepnya tetap
mengenai ketidaksadaran, yaitu bahwa tingkah laku manusia lebih banyak digerakkan
oleh aspek-aspek tak sadar dalam dirinya. Pembagian itu dikenal dengan sebutan
struktur kepribadian manusia, dan tetap terdiri atas tiga unsur, yaitu
a)
Id
Id adalah
satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian
sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut
Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sehingga komponen utama
kepribadian Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan
segera dari semua keinginan dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas
langsung, hasilnya adalah kecemasan negara atau ketegangan. Sebagai contoh,
peningkatan rasa lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan
atau minum. id ini sangat penting awal dalam hidup, karena itu memastikan bahwa
kebutuhan bayi terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis
sampai tuntutan id terpenuhi.
Namun, segera
memuaskan kebutuhan ini tidak selalu realistis atau bahkan mungkin. Jika kita
diperintah seluruhnya oleh prinsip kesenangan, kita mungkin menemukan diri kita
meraih hal-hal yang kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan
keinginan kita sendiri. Perilaku semacam ini akan baik mengganggu dan sosial
tidak dapat diterima. Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan
yang diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui proses utama, yang melibatkan
pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk
memuaskan kebutuhan.
b)
Ego
Ego adalah
komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas.
Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id
dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik
di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar.
Ego bekerja
berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan
cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai. Prinsip realitas beratnya
biaya dan manfaat dari suatu tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atas
atau meninggalkan impuls. Dalam banyak kasus, impuls id itu dapat dipenuhi
melalui proses menunda kepuasan – ego pada akhirnya akan memungkinkan perilaku,
tetapi hanya dalam waktu yang tepat dan tempat.
Ego juga
pelepasan ketegangan yang diciptakan oleh impuls yang tidak terpenuhi melalui
proses sekunder, di mana ego mencoba untuk menemukan objek di dunia nyata yang
cocok dengan gambaran mental yang diciptakan oleh proses primer id’s.
c)
Superego
Komponen
terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego. superego adalah aspek
kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang
kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat – kami rasa benar dan salah.
Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian. Yang ideal ego mencakup
aturan dan standar untuk perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang
disetujui oleh figur otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini
menyebabkan perasaan kebanggaan, nilai dan prestasi.
Hati nurani
mencakup informasi tentang hal-hal yang dianggap buruk oleh orang tua dan
masyarakat. Perilaku ini sering dilarang dan menyebabkan buruk, konsekuensi atau
hukuman perasaan bersalah dan penyesalan. Superego bertindak untuk
menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua
yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan perjuangan untuk membuat
tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis.
Superego hadir dalam sadar, prasadar dan tidak sadar.Maka dari itu
timbullah interaksi dari ketiga unsur unsur diatas yaitu dengan kekuatan
bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin timbul
antara ego, id dan superego. Freud menggunakan kekuatan ego istilah untuk
merujuk kepada kemampuan ego berfungsi meskipun kekuatan-kekuatan duel.
Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan
ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit
dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu.
Banyak pendapat
mengatakan bahwa teori Freud hanya berhasil untuk mengungkapkan genesis karya
sastra , jadi, sangat dekat dengan penelitian proses kreatif. Relevansi teori
Freud dianggap sangat terbatas dalam rangka memahami sebuah karya sastra.
Meskipun demikian, menurut Milner (1992:xiii) , peran teori
freud tidak terbatas sebagaimana dinyatakan sebelumnya. Menurutnya, teori Freud
memiliki inplikasi yang sangat luas tergantung bagaimana cara pengoprasiaannya.
Disatu pihak , hubungan psikologi dengan sastra didasarkan atas pemahaman,
bahwa sebagaimana bahasa pasien, sastra secara langsung menampilkan
ketaksadaran bahasa. Dipihak lain menyatakan bahwa psikologi Freud memanfaatkan
mimpi, fantasi, dan mite, sedangkan ketiga hal tersebut merupakan masalah pokok
didalam sastra.
C. Analisis
Novel “Edensor” Berdasarkan Pendekatan Psikologi Sastra
1. Identitas
Novel
-
Judul :
Edesor
-
Pengarang : Andrea Hirata
-
Jumlah Halaman : 288 halaman
-
Penerbit : PT Benten Pustaka
2. Sinopsis
Novel berjudul
Endesor ini merupakan bagian dari serangkaian seri tetralogi Laskar Pelangi
karya Andrea Hirata. Edensor sendiri merupakan rangkaian ke tiga. Tokoh utama
pada novel ini masih Ikal dan juga Arai, sepupunya. Secara umum novel ini
bercerita mengenai kehidupan pendidikan Arai juga Ikal yang berhasil
melanjutkan kuliahnya di Eropa. Sebelum berangkat ke sana, mereka berpamitan
pada gadis pujaan mereka yakni Zakia Nurmala juga A Ling. Meski Zakia cuek
menanggapi kepergian Arai, tetapi gadis itu tetap terbawa di hatinya. Demikian
pula dengan Ikal. Meski tak bertemu dengan A ling, ia tetap memendam cinta.
Arai dan Ikal
menempuh hampir 16 jam perjalanan dari Indonesia menuju Belanda. Sesampainya di
Belanda, mereka berdua dijemput seorang wanita berparas menawan bernama Mrs.
Famke Somers yang mengantarkannya ke sebuah flat sewaan tempat mereka akan
menginap. Sayangnya, karena kesalahpahaman mereka berdua diusir dari tempat
tersebut dan menghabiskan malam pertama di taman kota di tengah kedinginan yang
menusuk tubuh. Udara tak bersahabat tersebut bahkan membuat Ikal seolah
sekarat. Keesokan harinya, mereka berjalan-jalan ke pusat kota. Namun dengan
penampilan mereka yang kusut, banyak petugas yang menaruh curiga dan
menggeledah mereka berdua. Pertolongan kemudian datang setelah Erika,
sekretaris Dr. Woodward ditugaskan menjemput mereka dan mengantarkannya kembali
ke flat. Seminggu di flat, mereka memutuskan berangkan ke Perancis untuk
mencari apartemen tempat tinggal sekaligus mengunjungi menara Eifel yang
legendaris itu.
Selang beberapa
waktu, perkuliahan dimulai. Mereka dipertemukan orang-orang dari berbagai
bangsa. Ikal bertemu dengan seorang gadis Jerman bernama Katya yang memiliki
rupa sempurna. Katya kemudian menjalin kasih dengan ikal. Hanya saja, rasa
cintanya pada A Ling membuat Ikal tak sanggup menjalani kisah tersebut lebih
lama. Ia akhirnya memutuskan untuk berteman saja dengan Katya. Ikal memang
sangat mencintai A Ling. Sayangnya ia tak tahu dimana keberadaan wanita bermata
segaris itu. Ia hanya tahu A Ling meneruskan sekolah tata busananya. Bisa saja
di Singapura, di Afrika atau bahkan Eropa. Ikal sangat ingat, ia pernah membaca
novel yang berkisah tentang sebuah kampung indah bernama Edenesor. A Ling
sangat ingin ke tempat tersebut.
Dalam perjalanan
masa kuliah, Ikal dan teman-temannya dilingkupi kebosanan sehingga mereka
memutuskan untuk melakukan taruhan mengelilingi Eropa selama 3 bulan. Siapa
yang mampu mengelilingi Negara terbanyak adalah pemenangnya. Taruhan tersebut
sebenarnya membuat tujuan lain Ikal terlaksana, yakni mencari A Ling. Mereka
memulai perjalanan dari Belanda. Bersama Arai, ia berhasil mengelilingi
beberapa Negara cantik di Eropa. Sayangnya, Arai terserang penyakit pernapasan
akut sampai-sampai ia harus dipulangkan ke Indonesia. Akhirnya Ikal memutuskan
kembali ke apartemennya di Perancis. Ia disambut kabar murung bahwa dosen
pembimbingnya akan segera pensiun dan ia disarankan ikut bersamanya ke sebuah
tempat bernama Sheffield di Inggris. Di dalam perjalanan ia melewati sebuah
desa yang sangat indah dan memutuskan untuk singgah. Ia tak tahu nama tempat
itu, dan saat bertanya ia terkejut sebab tempat itu bernama Edensor..
3. Kajian
Psikologi Sastra Novel “EDENSOR” Karya Andre Hirata
a)
Tokoh
-
Ikal (Andrea Hirata) adalah seorang anak
yang berasal dari keluarga miskin di Belitong.
Setelah menyelesaikan studinya di Jakarta,
ia mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk
melanjutkan S2 di Universitas Sorbonne, Paris, Perancis.
-
Arai (Arai
Ichsanul Mahidin) adalah sepupu jauh sekaligus sahabat Ikal. Ia juga mendapatkan beasiswa
dari Uni Eropa untuk belajar biologi di Universitas Sorbonne, Paris.
-
Weh adalah seorang
laki-laki pribumi cerdas yang pernah menempuh pendidikan di Mollen Bass
Technisce School. Karena menanggung malu menderita burut, akhirnya ia memilih
untuk mengasingkan diri menjadi nelayan dan hidup di perahu. Weh adalah guru
untuk Ikal, memberi pelajaran besar untuk mengenal dirinya sendiri.
-
Dr. Michaela Woodward adalah
seorang Keynesian sekaligus
pejabat Uni Eropa yang menjadi
penentu akhir beasiswa.
-
Simon Van Der Wall adalah induk
semang atau pemilik kost tempat Arai dan Ikal singgah sementara di Brussel. Laki-laki ini bersifat dingin dan birokratis.
-
Pak Toha adalah laki-laki
tua dari Purbalingga yang
karena peristiwa
1965 menetap di Rumania dan belum pernah
kembali ke Indonesia. Pak Toha bertemu dengan
Arai dan Ikal dengan tidak terduga saat mereka menjelajahi Eropa.
-
Naomi Stansfield adalah seorang
mahasiswi dari London, Inggris yang selalu mengikuti mode. Ia
selalu berselisih dengan Virginia Townsend.
-
Katya Kristanaema adalah seorang
mahasiswi di kelas Ikal yang berasal dari Jerman. Ia mnenyukai Ikal
dan kemudian sempat menjadi kekasih Ikal.
-
The Pathetic Four adalah kelompok
mahasiswa di kelas Ikal yang merupakan penerima beasiswa dari Uni Eropa
ataupun Bank Dunia. Mereka berjuang
keras untuk bisa mendapatkan nilai cukup sehingga tidak perlu mengulang.
Mereka terdiri dari:
· Monahar
Vikram Raj Chauduri Manooj (MVRC Manooj) adalah
seorang juru tulis di kantor
sensus Punjab, India;
· Pablo
Arian Gonzales adalah seorang guru matematika dan
pelatih sepak bola dari Guadalajara, Meksiko.
Ia memperoleh beasiswa dari Bank Dunia dalam rangka memberantas kemiskinan di
Meksiko;
· Ninochka
Stronovsky adalah seorang pemain catur andal dari Georgia.
Ia mendapatkan beasiswa karena keandalannya dalam bermain catur.
· dan
Ikal sendiri.
b)
Analisis Tokoh dalam Novel Edensor
Berdasarkan Pendekatan Psikologi Sastra
1) Ikal :
Dalam
novel ini, ketika kita melihat dari segi psikologi sastra, tokoh Ikal adalah
seorang yang mempunyai kejiwaan yang kuat untuk bertahan terhadap keinginannya
dan selalu ingin meraih keinginannya. Hal ini dapat dibuktikan pada dalam
kata-katanya: “aku tak mau mati! Tak mau
mati konyol seperti ini di hari pertama pertualanganku! Aku masih ingin
mengelana Eropa sampai ke Afrika, aku mau kuliah di Sarbonne, aku belum
menemukan A Ling! (Hal. 64)
Selain
itu, Ikal juga adalah seorang yang rendah diri: “... Tapi, meski aku juga pengagum Katya, aku tak termasuk dalam
kelompok penebar pesona itu. Aku sadr diri, dari seluruh kemungkinan logis
ketertarikan pria wanita secara fisik, materialistik, filosofik, idealisme,
kultur, ekspektasi, kemistri, gengsi, atau apa pun, tak secuil pun aku memenuhi
kualifikasi Katya”.(Hal. 112)
2) Arai (Arai Ichsanul Mahidin)
Arai adalah orang yang
pantang menyerah, itu dapat dibuktikan dari penggalan cerita : “Baru kutahu ada orang yang ditampik hampir
sepuluh tahun tapi tetap kukuh berjuang. Arai tak pernah tertarik pada
perempuan lain. Zakiah adalah resolusi dan seluruh defenisnya tentang cinta. Ia
telah menulis puluhan puisi untuk belahan hatinya itu, telah menyanyikan lagu
di bawah jendela kamarnya, berhujan-hujan mengejarnya, dan bersepeda puluhan
kilometer untuk menemuinya 5 menit. Zakiah tetap tak acuh. Mungkin Arai telah
diserang sakit gila nomor dua puluh enam: tak bisa membedakan diterima atau
ditolak”. (Hal 46-47)
3) Weh
Sosok Weh dalam novel
ini memiliki kejiwaan yang keras sampai pada perbuatannya mengutuk dirinya
sendiri, Ini dapat terlihat dari sepenggal kalimat: “Tahu apa kalian soal hukum agama!” “Jangan mandikan mayatnya di
Masjid! Biar dia hangus di Neraka berdaki-daki!” (Hal.2)
4)
Dr. Michaela Woodward
Dr. Michaela Woodward
adalah seorang yang sangat cemerlang dan pemarah. Hal ini dapat dilihat dalam
penggalan kalimat : “Apakah kalian juga
pengikut Pak Tuan Adam Smith tu?!, Kalau ia keluar dari ruangan ini!, saya
tidak menerima tamu selain monetarist!, Keluar!”
5)
Simon Van Der Wall
Aspek kejiwaan tokoh
ini bersifat dingin dan birokratis. Ini terbukti dari penggalan kalimat : “Saya sudah berulang kali mengonfirmasi
kedatangan kalian pada Jakarta, tak ada jawaban. Memang ada kamr kosong, tapi
sistem di sini tidak bekerja seperti itu. Impossible, tukasnya tanpa
perasaan... ini hari minggu, kebetulan saya ada di kantor. Jika tidak, bahkan
kalian tak bisa melewati pagar itu!” “Sikap Van Der Wall delapan derajat
Celcius, lebih dingin satu strip dari suhu di luar”. (Hal. 60)
D. Analisis
Novel “Edensor” menurut pengertian psikologi sastra Wellek dan Austin
1.
Studi psikologi pengarang
Dalam
novel ini, pengarang (Andrea Hirata) menamai dirinya sebagai Ikal yaitu tokoh
utama dalam novel “edensor”. Kejiwaan pengarang dalam novel ini adalah seorang
yang mempunyai cita-cita tinggi. Hal ini dibuktikan : “Akan saya sumbangkan seluruh ilmu dan pengalaman riset yang saya
dapatkan di Sorbonne demi kemajuan nusa dan bangsa, demi tanah dan tumpah darah
saya! Tak berlebihan saya sampaikan secara diam-diam, sebenarnya saya telah
lama bercita-cita ingin mencurahkan seluruh kemampuan yang saya miliki, tak
digaji pun tak apa-apa, demi mengangkat harkat dan martabat umat manusia yang
masih terbelakang di negeri saya, negeri yang benar-benar saya cintai dengan
sepenuh jiwa...”
2.
Studi Proses Kreatif
Studi
proses kreatif di sini adalah penggunaan bahasa yang digunakan pengarang. Dalam
novel ini pengarang mengajak pembaca untuk bersama-sama hidup dalam khayalan
dengan kata dan/atau kalimat asing yang dipakai.
Proses
kreatif yang disampaikan pengarang di sini juga adalah arti sebuah nama.
3.
Studi Tipe dan hukum-hukum psikologi
dalam karya sastra.
Karya
sastra ini, tidak banyak mengandung hal-hal yang arogan dalam pemaparan
bahasanya. Novel yang menceritakan perjuangan serta cinta dapat memberikan
kesan dan pendalaman makna positif bagi pembaca.
4.
Dampak sastra pada pembaca (psikologi
pembaca)
Novel
ini, ketika dibaca dengan mendalam (bahkan berulang-ulang) akan memberikan
dampak positif bagi kejiwaan pembaca seperti, cita-cita yang tinggi, perjuangan
pantang menyerah, dll.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Teori dalam menganalisis ini menggunakan pendekatan
psikologi sastra. Psikologi Sastra adalah analisis teks dengan mempertimbangkan
relevansi dan peranan studi psikologi Ratna (2004:350). Sedangkan tekhnik yang
digunakan adalah Psikoanalisis yaitu; Id, Ego dan Superego.
B. Saran
Psikologi
sastra memberikan sebuah manfaat yang dapat membantu pembaca dalam mengetahui dan memahami serta
mendeskripsikan sifat-sifat tokoh dalam sebuah novel.
Daftar
Pustaka
Hirata
Andrea. 2014. Edensor Novel Ketiga dari
Tetralogi Laskar Pelangi. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar