Senin, 04 Mei 2015

ANALISIS NOVEL “EDENSOR” KARYA ANDREA HIRATA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA

BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Sastra juga cabang ilmu pengetahuan. Studi sastra memiliki metode-metode yang absah dan ilmiah, walau tidak selalu sama dengan metode ilmu-ilmu alam. Bedanya hanya saja ilmu-ilmu alam berbeda dengan tujuan ilmu-ilmu budaya. Ilmu-ilmu alam mempelajari fakta-fakta yang berulang, sedangkan sejarah mengkaji fakta-fakta yang silih berganti. Karya sastra pada dasarnya bersifat umum dan sekaligus bersifat khusus, atau lebih tepat lagi : individual dan umum sekaligus. Studi sastra adalah sebuah cabang ilmu pengetahuan yang berkembang terus-menerus.
Dengan berkembangannya ilmu tentang sastra maka bukan hanya unsur-unsur yang terdapat didalam sebuah karya sastra saja yang dapat dikaji atau analisis tetapi pada saat ini sastra juga dapat dikaji berdasarkan faktor-faktor yang berasal dari luar sastra itu. Faktor-faktor dari luar karya sastra yaitu sosiologi sastra, psikologi sastra serta antropologi sastra. Sosiologi sastra dianalisis dalam kaitannya dengan masyarakat yang menghasilkannya sebagai latar belakang sosialnya. Antropologi sastra, dibangun atas dasar asumsi-asumsi genesis, dalam kaitannya dengan asal usul sastra.
Psikologi Sastra adalah analisis teks dengan mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologis. Artinya, psikologi turut berperan penting dalam penganalisisan sebuah karya sastra dengan bekerja dari sudut kejiwaan karya sastra tersebut baik dari unsur pengarang, tokoh, maupun pembacanya. Dengan dipusatkannya perhatian pada tokoh-tokoh, maka akan dapat dianalisis konflik batin yang terkandung dalam karya sastra. Jadi, Secara umum dapat disimpulkan bahwa hubungan antara sastra dan psikologi sangat erat hingga melebur dan melahirkan ilmu baru yang disebut dengan “Psikologi Sastra”.
Analisis Teori Psikologi Sastra yang dilanjutkan dengan Teori Psikoanalisis dan diaplikasikan dengan meminjam teori kepribadian ahli psikologi terkenal Sigmund Freud. Dengan meletakkan teori Freud sebagai dasar penganalisisan, maka pemecahan masalah akan gangguan kejiwaan tokoh utama akan dapat dijembatani secara bertahap. Didalam makalah ini akan dikaji secara terperinci tentang psikologi sastra dan pengaplikasiannya.
B.       RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan Psikologi Sastra ?
2.      Bagaimana metode dalam menganalisis Novel Edensor ?
3.      Bagaimana teknik yang digunakan dalam menganalisis novel dengan pendekatan psikologi sastra ?
4.      Bagaimana kejiwaan tokoh dalam novel edensor ?

C.       TUJUAN
1.      Untuk dapat mendeskripsikan pengertian Psikologi Sastra
2.      Untuk dapat mendeskripsikan metode dalam menganalisis novel edendor
3.      Untuk dapat mendeskripsikan teknik dalam menganalisis novel dengan pendekatan psikologi sastra
4.      Untuk dapat mendeskripsikan kejiwaan beberapa tokoh dalam novel edensor




BAB II
ISI

A.      Pengertian Psikologi Sastra
Psikologi secara sempit dapat diartikan sebagai ilmu tentang jiwa. Sedangkan sastra adalah ilmu tentang karya seni dengan tulis-menulis. Maka jika diartikan secara keseluruhan, psikologi sastra merupakan ilmu yang mengkaji karya sastra dari sudut kejiwaannya.
Menurut Ratna (2004:350), “Psikologi Sastra adalah analisis teks dengan mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologis”. Artinya, psikologi turut berperan penting dalam penganalisisan sebuah karya sastra dengan bekerja dari sudut kejiwaan karya sastra tersebut baik dari unsur pengarang, tokoh, maupun pembacanya. Dengan dipusatkannya perhatian pada tokoh-tokoh, maka akan dapat dianalisis konflik batin yang terkandung dalam karya sastra.. Secara umum dapat disimpulkan bahwa hubungan antara sastra dan psikologi sangat erat hingga melebur dan melahirkan ilmu baru yang disebut dengan “Psikologi Sastra”. Artinya, dengan meneliti sebuah karya sastra melalui pendekatan Psikologi Sastra, secara tidak langsung kita telah membicarakan psikologi karena dunia sastra tidak dapat dipisahkan dengan nilai kejiwaan yang mungkin tersirat dalam karya sastra tersebut.
Menurut Wellek dan Austin (1989:90), Istilah psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan pengertian. Yang pertama adalah studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Yang kedua adalah studi proses kreatif. Yang ketiga studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Dan yang keempat mempelajari dampak sastra pada pembaca (psikologi pembaca). Pendapat Wellek dan Austin tersebut memberikan pemahaman akan begitu luasnya cakupan ilmu psikologi sastra. Psikologi sastra tidak hanya berperan dalam satu unsur saja yang membangun sebuah karya sastra. Mereka juga menyebutkan, “Dalam sebuah karya sastra yang berhasil, psikologi sudah menyatu menjadi karya seni, oleh karena itu, tugas peneliti adalah menguraikannya kembali sehingga menjadi jelas dan nyata apa yang dilakukan oleh karya tersebut”


B.       Metodologi Analisis
1.      Metode
Harus kita akui, bahwa di indonesia analisis tentang psikologi sastra sangat lambat perkembangannya hal ini disebabkan karena : a). Psikologi satra seolah-olah hanya berkaitan dengan manusia sebagai individu, kurang memberikan peranan terhadap subjek transindividual, sehingga analisis dianggap sempit, b). Dikaitkan dengan tradisi intelektual, teori-teori psikologis sangat terbatas, sehingga para sarjana sastra kurang kurang memiliki pemahaman terhadap bidang psikologin sastra, c). Berkaitan dengan masalah yang pertama dan kedua , relevansi analisis psikologi pada gilirannya kurang menarik minat, khususnya dikalangan mahasiswa, yang dapat dibuktikan dengan sedikitnya skripsi dan karya tulis yang lain yang memanfaatkan pendekatan psikologi sastra.
Sebenarnya didalam karya sastra memiliki aspek-aspek kejiwaan yang sangat kaya, maka analisis psikologi harus dimotivasi dan dikembangkan secara lebih serius lagi. Tujuan psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam suatu karya sastra. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa analisis psikologi sastra sama sekali terlepas denga kebutuhan masyarakat. Sesuai dengan hakikatnya, karya sastra memberikan pemahaman terhadap masyarakat secara tidak langsung. Misalnya melalu pemahaman terhadap tokoh-tokohnya , misalnya, masyarakat dapat memahami perubahan, kontradiksi, dan penyimpangan-pemyimpangan lain yang terjadi didalam masyarakat, khususnya dalam kaitannya dengan psike.
Menurut Wellek dan Warren ( 1962: 81 ) membedakan analisis psikologis menjadi dua macam yaitu studi psikologi yang semata-mata berkaitan dengan pengarang. Sedangkan studi yang kedua berhubungan dengan inspirasi, ilham, dan kekuatan-kekuatan supranatural lainnya. Pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang kedua, yaitu pembicaraan dalam kaitannya dengan unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung didalam karya sastra. Pada umumnya aspek-aspek kemanusiaan yang merupakan objek utama didalam psikologi sastra, sebab semata-mata dalam diri manusia itulah, sebagai tokoh-tokoh , aspek kejiwaan dicangkokkan dan diinvestasikan.
Dengan penjelasan diatas maka penelitian psikologi sastra dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi kemudian dilakukan analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori psikologi yang dianggap relevan untuk melakukan analisis. Pada umumnya metodologi penelitian yang pertama memiliki kecenderungan untuk menempatkan karya satra sebagai gejala sekunder sebab cara-cara penelitian yang dimaksudkan menganggap karya sastra sebagai gejala yang pasif, atau semata-mata sebgai objek untuk mengaplikasikan teori.
Psikologi sastra sebagaimana dimaksudkan dalam pembicaraan ini adalah cara-cara penelitian yang dilakukan dengan menempatkan karya sastra sebagai gejala yang dinamis. Karya sastralah yang menentukan teori, bukan sebaliknya. Dengan mengambil analogi hubungan antara psikolog dengan pasien diatas pada dasarnya sudah menjadi keseimbangan antara karya sastra dengan teori.
2.      Teknik
Psikoanalisis pertama kali dimunculkan oleh “Bapak Psikoanalisis” terkenal Sigmund Freud yang berasal dari Austria. “Psikoanalisis adalah istilah khusus dalam penelitian psikologi sastra” (Endraswara, 2008:196). Artinya, psikoanalisis ini banyak diterapkan dalam setiap penelitian sastra yang mempergunakan pendekatan psikologis. Umumnya, dalam setiap pelaksanaan pendekatan psikologis terhadap penelitian sastra, yang diambil dari teori psikoanalisis ini hanyalah bagian-bagian yang berguna dan sesuai saja, terutama yang berkaitan dengan pembahasan sifat dan perwatakan manusia. Pembahasan sifat dan perwatakan manusia tersebut meliputi cakupan yang relatif luas karena manusia senantiasa menunjukkan keadaan jiwa yang berbeda-beda.
Psikoanalisis juga menguraikan kelainan atau gangguan jiwa, “Namun dapat dipastikan bahwa Psikoanalisis bukanlah merupakan keseluruhan dari ilmu jiwa, tetapi merupakan suatu cabang dan mungkin malahan dasar dari keseluruhan ilmu jiwa” (Calvin, 1995:24). Berdasarkan pernyataan tersebut secara umum dapat disimpulkan bahwa psikoanalisis merupakan tombak dasar penelitian kejiwaan dalam mencapai tahap penelitian yang lebih serius, khususnya karya sastra dalam hal ini. Psikoanalisis dalam karya sastra berguna untuk menganalisis tokoh-tokoh dalam drama atau novel secara psikologis. Tokoh-tokoh tersebut umumnya merupakan imajinasi atau khayalan pengarang yang berada dalam kondisi jiwa yang sehat maupun terganggu, lalu dituangkan menjadi sebuah karya yang indah. Keadaan jiwa yang sehat dan terganggu inilah yang menjadi cermin lahirnya karya dengan tokoh berjiwa sehat maupun terganggu.
Konsep Freud yang paling mendasar adalah teorinya tentang ketidaksadaran. Pada awalnya, Freud membagi taraf kesadaran manusia menjadi tiga lapis, yakni lapisan unconscious (taksadar), lapisan preconscious (prasadar), dan lapisan conscious (sadar). Di antara tiga lapisan itu, taksadar adalah bagian terbesar yang memengaruhi perilaku manusia. Freud menganalogikannya dengan fenomena gunung es di lautan, di mana bagian paling atas yang tampak di permukaan laut mewakili lapisan sadar. Prasadar adalah bagian yang turun-naik di bawah dan di atas permukaan. Sedangkan bagian terbesar justru yang berada di bawah laut, mewakili taksadar.
Dalam buku-bukunya yang lebih mutakhir, Freud meninggalkan pembagian lapisan kesadaran di atas, dan menggantinya dengan konsep yang lebih teknis. Tetapi basis konsepnya tetap mengenai ketidaksadaran, yaitu bahwa tingkah laku manusia lebih banyak digerakkan oleh aspek-aspek tak sadar dalam dirinya. Pembagian itu dikenal dengan sebutan struktur kepribadian manusia, dan tetap terdiri atas tiga unsur, yaitu
a)        Id
Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sehingga komponen utama kepribadian Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan negara atau ketegangan. Sebagai contoh, peningkatan rasa lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan atau minum. id ini sangat penting awal dalam hidup, karena itu memastikan bahwa kebutuhan bayi terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis sampai tuntutan id terpenuhi.
Namun, segera memuaskan kebutuhan ini tidak selalu realistis atau bahkan mungkin. Jika kita diperintah seluruhnya oleh prinsip kesenangan, kita mungkin menemukan diri kita meraih hal-hal yang kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan keinginan kita sendiri. Perilaku semacam ini akan baik mengganggu dan sosial tidak dapat diterima. Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui proses utama, yang melibatkan pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan.
b)        Ego
Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar.
Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai. Prinsip realitas beratnya biaya dan manfaat dari suatu tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atas atau meninggalkan impuls. Dalam banyak kasus, impuls id itu dapat dipenuhi melalui proses menunda kepuasan – ego pada akhirnya akan memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam waktu yang tepat dan tempat.
Ego juga pelepasan ketegangan yang diciptakan oleh impuls yang tidak terpenuhi melalui proses sekunder, di mana ego mencoba untuk menemukan objek di dunia nyata yang cocok dengan gambaran mental yang diciptakan oleh proses primer id’s.
c)        Superego
Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego. superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat – kami rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian. Yang ideal ego mencakup aturan dan standar untuk perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang disetujui oleh figur otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini menyebabkan perasaan kebanggaan, nilai dan prestasi.
Hati nurani mencakup informasi tentang hal-hal yang dianggap buruk oleh orang tua dan masyarakat. Perilaku ini sering dilarang dan menyebabkan buruk, konsekuensi atau hukuman perasaan bersalah dan penyesalan. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, prasadar dan tidak sadar.Maka dari itu timbullah interaksi dari ketiga unsur unsur diatas yaitu dengan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin timbul antara ego, id dan superego. Freud menggunakan kekuatan ego istilah untuk merujuk kepada kemampuan ego berfungsi meskipun kekuatan-kekuatan duel. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu.
Banyak pendapat mengatakan bahwa teori Freud hanya berhasil untuk mengungkapkan genesis karya sastra , jadi, sangat dekat dengan penelitian proses kreatif. Relevansi teori Freud dianggap sangat terbatas dalam rangka memahami sebuah karya sastra. Meskipun demikian, menurut Milner                  (1992:xiii) , peran teori freud tidak terbatas sebagaimana dinyatakan sebelumnya. Menurutnya, teori Freud memiliki inplikasi yang sangat luas tergantung bagaimana cara pengoprasiaannya. Disatu pihak , hubungan psikologi dengan sastra didasarkan atas pemahaman, bahwa sebagaimana bahasa pasien, sastra secara langsung menampilkan ketaksadaran bahasa. Dipihak lain menyatakan bahwa psikologi Freud memanfaatkan mimpi, fantasi, dan mite, sedangkan ketiga hal tersebut merupakan masalah pokok didalam sastra.

C.       Analisis Novel “Edensor” Berdasarkan Pendekatan Psikologi Sastra
1.      Identitas Novel
-          Judul                      : Edesor
-          Pengarang              : Andrea Hirata
-          Jumlah Halaman    : 288 halaman
-          Penerbit                 : PT Benten Pustaka
2.      Sinopsis
Novel berjudul Endesor ini merupakan bagian dari serangkaian seri tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Edensor sendiri merupakan rangkaian ke tiga. Tokoh utama pada novel ini masih Ikal dan juga Arai, sepupunya. Secara umum novel ini bercerita mengenai kehidupan pendidikan Arai juga Ikal yang berhasil melanjutkan kuliahnya di Eropa. Sebelum berangkat ke sana, mereka berpamitan pada gadis pujaan mereka yakni Zakia Nurmala juga A Ling. Meski Zakia cuek menanggapi kepergian Arai, tetapi gadis itu tetap terbawa di hatinya. Demikian pula dengan Ikal. Meski tak bertemu dengan A ling, ia tetap memendam cinta.
Arai dan Ikal menempuh hampir 16 jam perjalanan dari Indonesia menuju Belanda. Sesampainya di Belanda, mereka berdua dijemput seorang wanita berparas menawan bernama Mrs. Famke Somers yang mengantarkannya ke sebuah flat sewaan tempat mereka akan menginap. Sayangnya, karena kesalahpahaman mereka berdua diusir dari tempat tersebut dan menghabiskan malam pertama di taman kota di tengah kedinginan yang menusuk tubuh. Udara tak bersahabat tersebut bahkan membuat Ikal seolah sekarat. Keesokan harinya, mereka berjalan-jalan ke pusat kota. Namun dengan penampilan mereka yang kusut, banyak petugas yang menaruh curiga dan menggeledah mereka berdua. Pertolongan kemudian datang setelah Erika, sekretaris Dr. Woodward ditugaskan menjemput mereka dan mengantarkannya kembali ke flat. Seminggu di flat, mereka memutuskan berangkan ke Perancis untuk mencari apartemen tempat tinggal sekaligus mengunjungi menara Eifel yang legendaris itu.
Selang beberapa waktu, perkuliahan dimulai. Mereka dipertemukan orang-orang dari berbagai bangsa. Ikal bertemu dengan seorang gadis Jerman bernama Katya yang memiliki rupa sempurna. Katya kemudian menjalin kasih dengan ikal. Hanya saja, rasa cintanya pada A Ling membuat Ikal tak sanggup menjalani kisah tersebut lebih lama. Ia akhirnya memutuskan untuk berteman saja dengan Katya. Ikal memang sangat mencintai A Ling. Sayangnya ia tak tahu dimana keberadaan wanita bermata segaris itu. Ia hanya tahu A Ling meneruskan sekolah tata busananya. Bisa saja di Singapura, di Afrika atau bahkan Eropa. Ikal sangat ingat, ia pernah membaca novel yang berkisah tentang sebuah kampung indah bernama Edenesor. A Ling sangat ingin ke tempat tersebut.
Dalam perjalanan masa kuliah, Ikal dan teman-temannya dilingkupi kebosanan sehingga mereka memutuskan untuk melakukan taruhan mengelilingi Eropa selama 3 bulan. Siapa yang mampu mengelilingi Negara terbanyak adalah pemenangnya. Taruhan tersebut sebenarnya membuat tujuan lain Ikal terlaksana, yakni mencari A Ling. Mereka memulai perjalanan dari Belanda. Bersama Arai, ia berhasil mengelilingi beberapa Negara cantik di Eropa. Sayangnya, Arai terserang penyakit pernapasan akut sampai-sampai ia harus dipulangkan ke Indonesia. Akhirnya Ikal memutuskan kembali ke apartemennya di Perancis. Ia disambut kabar murung bahwa dosen pembimbingnya akan segera pensiun dan ia disarankan ikut bersamanya ke sebuah tempat bernama Sheffield di Inggris. Di dalam perjalanan ia melewati sebuah desa yang sangat indah dan memutuskan untuk singgah. Ia tak tahu nama tempat itu, dan saat bertanya ia terkejut sebab tempat itu bernama Edensor..
3.      Kajian Psikologi Sastra Novel “EDENSOR” Karya Andre Hirata
a)         Tokoh
-            Ikal (Andrea Hirata) adalah seorang anak yang berasal dari keluarga miskin di Belitong. Setelah menyelesaikan studinya di Jakarta, ia mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk melanjutkan S2 di Universitas SorbonneParisPerancis.
-            Arai (Arai Ichsanul Mahidin) adalah sepupu jauh sekaligus sahabat Ikal. Ia juga mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk belajar biologi di Universitas Sorbonne, Paris.
-            Weh adalah seorang laki-laki pribumi cerdas yang pernah menempuh pendidikan di Mollen Bass Technisce School. Karena menanggung malu menderita burut, akhirnya ia memilih untuk mengasingkan diri menjadi nelayan dan hidup di perahu. Weh adalah guru untuk Ikal, memberi pelajaran besar untuk mengenal dirinya sendiri.
-            Dr. Michaela Woodward adalah seorang Keynesian sekaligus pejabat Uni Eropa yang menjadi penentu akhir beasiswa.
-            Simon Van Der Wall adalah induk semang atau pemilik kost tempat Arai dan Ikal singgah sementara di Brussel. Laki-laki ini bersifat dingin dan birokratis.
-            Pak Toha adalah laki-laki tua dari Purbalingga yang karena peristiwa 1965 menetap di Rumania dan belum pernah kembali ke Indonesia. Pak Toha bertemu dengan Arai dan Ikal dengan tidak terduga saat mereka menjelajahi Eropa.
-            Naomi Stansfield adalah seorang mahasiswi dari LondonInggris yang selalu mengikuti mode. Ia selalu berselisih dengan Virginia Townsend.
-            Katya Kristanaema adalah seorang mahasiswi di kelas Ikal yang berasal dari Jerman. Ia mnenyukai Ikal dan kemudian sempat menjadi kekasih Ikal.
-            The Pathetic Four adalah kelompok mahasiswa di kelas Ikal yang merupakan penerima beasiswa dari Uni Eropa ataupun Bank Dunia. Mereka berjuang keras untuk bisa mendapatkan nilai cukup sehingga tidak perlu mengulang.
Mereka terdiri dari:
·       Monahar Vikram Raj Chauduri Manooj (MVRC Manooj) adalah seorang juru tulis di kantor sensus PunjabIndia;
·       Pablo Arian Gonzales adalah seorang guru matematika dan pelatih sepak bola dari GuadalajaraMeksiko. Ia memperoleh beasiswa dari Bank Dunia dalam rangka memberantas kemiskinan di Meksiko;
·       Ninochka Stronovsky adalah seorang pemain catur andal dari Georgia. Ia mendapatkan beasiswa karena keandalannya dalam bermain catur.
·       dan Ikal sendiri.

b)        Analisis Tokoh dalam Novel Edensor Berdasarkan Pendekatan Psikologi Sastra
1)      Ikal :
Dalam novel ini, ketika kita melihat dari segi psikologi sastra, tokoh Ikal adalah seorang yang mempunyai kejiwaan yang kuat untuk bertahan terhadap keinginannya dan selalu ingin meraih keinginannya. Hal ini dapat dibuktikan pada dalam kata-katanya: “aku tak mau mati! Tak mau mati konyol seperti ini di hari pertama pertualanganku! Aku masih ingin mengelana Eropa sampai ke Afrika, aku mau kuliah di Sarbonne, aku belum menemukan A Ling! (Hal. 64)
Selain itu, Ikal juga adalah seorang yang rendah diri: “... Tapi, meski aku juga pengagum Katya, aku tak termasuk dalam kelompok penebar pesona itu. Aku sadr diri, dari seluruh kemungkinan logis ketertarikan pria wanita secara fisik, materialistik, filosofik, idealisme, kultur, ekspektasi, kemistri, gengsi, atau apa pun, tak secuil pun aku memenuhi kualifikasi Katya”.(Hal. 112)
2)      Arai (Arai Ichsanul Mahidin)
Arai adalah orang yang pantang menyerah, itu dapat dibuktikan dari penggalan cerita : “Baru kutahu ada orang yang ditampik hampir sepuluh tahun tapi tetap kukuh berjuang. Arai tak pernah tertarik pada perempuan lain. Zakiah adalah resolusi dan seluruh defenisnya tentang cinta. Ia telah menulis puluhan puisi untuk belahan hatinya itu, telah menyanyikan lagu di bawah jendela kamarnya, berhujan-hujan mengejarnya, dan bersepeda puluhan kilometer untuk menemuinya 5 menit. Zakiah tetap tak acuh. Mungkin Arai telah diserang sakit gila nomor dua puluh enam: tak bisa membedakan diterima atau ditolak”. (Hal 46-47)
3)      Weh
Sosok Weh dalam novel ini memiliki kejiwaan yang keras sampai pada perbuatannya mengutuk dirinya sendiri, Ini dapat terlihat dari sepenggal kalimat: “Tahu apa kalian soal hukum agama!” “Jangan mandikan mayatnya di Masjid! Biar dia hangus di Neraka berdaki-daki!” (Hal.2)
4)      Dr. Michaela Woodward
Dr. Michaela Woodward adalah seorang yang sangat cemerlang dan pemarah. Hal ini dapat dilihat dalam penggalan kalimat : “Apakah kalian juga pengikut Pak Tuan Adam Smith tu?!, Kalau ia keluar dari ruangan ini!, saya tidak menerima tamu selain monetarist!, Keluar!”
5)      Simon Van Der Wall
Aspek kejiwaan tokoh ini bersifat dingin dan birokratis. Ini terbukti dari penggalan kalimat : “Saya sudah berulang kali mengonfirmasi kedatangan kalian pada Jakarta, tak ada jawaban. Memang ada kamr kosong, tapi sistem di sini tidak bekerja seperti itu. Impossible, tukasnya tanpa perasaan... ini hari minggu, kebetulan saya ada di kantor. Jika tidak, bahkan kalian tak bisa melewati pagar itu!” “Sikap Van Der Wall delapan derajat Celcius, lebih dingin satu strip dari suhu di luar”. (Hal. 60)

D.      Analisis Novel “Edensor” menurut pengertian psikologi sastra Wellek dan Austin
1.         Studi psikologi pengarang
Dalam novel ini, pengarang (Andrea Hirata) menamai dirinya sebagai Ikal yaitu tokoh utama dalam novel “edensor”. Kejiwaan pengarang dalam novel ini adalah seorang yang mempunyai cita-cita tinggi. Hal ini dibuktikan : “Akan saya sumbangkan seluruh ilmu dan pengalaman riset yang saya dapatkan di Sorbonne demi kemajuan nusa dan bangsa, demi tanah dan tumpah darah saya! Tak berlebihan saya sampaikan secara diam-diam, sebenarnya saya telah lama bercita-cita ingin mencurahkan seluruh kemampuan yang saya miliki, tak digaji pun tak apa-apa, demi mengangkat harkat dan martabat umat manusia yang masih terbelakang di negeri saya, negeri yang benar-benar saya cintai dengan sepenuh jiwa...”
2.         Studi Proses Kreatif
Studi proses kreatif di sini adalah penggunaan bahasa yang digunakan pengarang. Dalam novel ini pengarang mengajak pembaca untuk bersama-sama hidup dalam khayalan dengan kata dan/atau kalimat asing yang dipakai.
Proses kreatif yang disampaikan pengarang di sini juga adalah arti sebuah nama.
3.         Studi Tipe dan hukum-hukum psikologi dalam karya sastra.
Karya sastra ini, tidak banyak mengandung hal-hal yang arogan dalam pemaparan bahasanya. Novel yang menceritakan perjuangan serta cinta dapat memberikan kesan dan pendalaman makna positif bagi pembaca.
4.         Dampak sastra pada pembaca (psikologi pembaca)
Novel ini, ketika dibaca dengan mendalam (bahkan berulang-ulang) akan memberikan dampak positif bagi kejiwaan pembaca seperti, cita-cita yang tinggi, perjuangan pantang menyerah, dll.                    



BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Teori dalam menganalisis ini menggunakan pendekatan psikologi sastra. Psikologi Sastra adalah analisis teks dengan mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologi Ratna (2004:350). Sedangkan tekhnik yang digunakan adalah Psikoanalisis yaitu; Id, Ego dan Superego.

B.       Saran
Psikologi sastra memberikan sebuah manfaat yang dapat membantu pembaca dalam mengetahui dan memahami serta mendeskripsikan sifat-sifat tokoh dalam sebuah novel.

         



Daftar Pustaka

Hirata Andrea. 2014. Edensor Novel Ketiga dari Tetralogi Laskar Pelangi. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka



Tidak ada komentar:

Posting Komentar